Sang Waktu


            Ditengah pemukiman padat, tampak dari kejauhan seorang anak kulit hitam berlatih seorang diri bermain basket, keringat membasahi tubuhnya. Panas terik, hujan badai dan dingin salju tidak menjadi halangan buatnya untuk berlatih, setiap hari hampir 12 jam dia berlatih untuk mengejar cita-citanya, atas jerih payah dan kerja kerasnya dan seiring dengan berjalannya waktu,  saat ini anak kulit hitam tersebut sudah menjadi seorang pemuda yang sangat disegani di dunia olah raga basket, dialah Michael Jordan. Bola basket yang dipakai saat latihan waktu kecil diperebutkan seharga 80 juta dollar, sepatu nike yang digunakan sebagai ikon seharga ratusan dollar dan seragam yang dia kenakan saat bertanding menjadi incaran penggemarnya, padahal bola yang sama dengan kualitas yang sama di pasaran hanya seharga puluhan dollar saja. Jadi apa sebenarnya yang membedakan ?  Seorang Michael Jordan ?  ternyata yang membedakan adalah Sang Waktu. Michael Jordan, mengorbankan masa kecilnya hanya untuk berlatih keras mengejar cita-citanya, mengorbankan keluarganya, anak-istrinya hanya untuk mendapatkan nilai tertinggi dari penawaran yang diberikan, uang adalah nilai tukar dan bentuk kompensasi dari sang waktu.  

 

 

BELAJAR DARI

DIRI SENDIRI

 

            Didalam perjalanannya Yesus bersama murid-muridnya berjalan menjumpai orang buta dan cacat sejak lahir, sejenak kemudian murid-muridnya mengajukan pertanyaan kepada Yesus, Guru siapakah yang bersalah atas mereka, apakah orang tuanya, atau apakah orang itu sendiri, sehingga mereka mendapatkan keadaan seperti itu. Lalu Yesus mengatakan kepada murid-muridnya, Dengan keadaan mereka seperti itu, bukan salah orang tuanya, dan juga bukan salah diri mereka sendiri, tetapi supaya nama Bapaku dimuliakan diantara mereka.

Seringkali lebih mudah menyalahkan orang lain dalam menanggapi segala peristiwa, kondisi dan keadaan diri sendiri hanya dengan  tujuan mencari penghiburan, mengalihkan perhatian dan menutupi  kebodohan diri sendiri, tetapi lupa untuk melihat kemuliaan Tuhan didalam setiap peristiwa, akan kondisi dan keadaan tersebut.

This entry was posted in Renungan: Sejenak Berhenti Untuk Minum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s