Peristiwa Yang Didapat Adalah Cermin Dari Tindakan Yang Dilakukan


             Apabila kita melihat cermin datar yang ada di rumah, kita akan melihat diri kita sesuai dengan keadaan yang sebenarnya,  apabila kita berdadan rapi akan tampak pula dandanan rapi didalam cermin tersebut, demikian juga sebaliknya, apabila rambut kita acak-acakan, yang tampak juga adalah rambut yang acak-acakan didalam cermin tersebut.  Cermin yang saya maksud sebenarnya adalah segala tindakan kita, bahkan hasil dari tindakan kita baik atau buruk sebenarnya sudah tersaji didepan kita secara nyata, seperti sebuah cermin yang memantulkan bayangan sesungguhnya dalam diri sendiri.  Sangat penting untuk diketahui didalam dunia usaha bahwa cermin-cermin itu selalu tersaji setiap saat dihadapan kita. Tetapi seperti biasanya kebanyakan orang selalu melewatkan begitu saja, mereka lebih mementingkan hasil dari pada proses mencapai hasil tersebut. Seperti yang pernah saya bagikan didalam bab terdahulu, bahwa apabila proses dilakukan dengan baik, hasilnyapun pasti baik, tetapi apabila kita lebih mementingkan hasil, kemungkinan besar proses menjadi terabaikan dan ujung-ujungnya kekecewaan yang didapat karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.

            Pernah suatu ketika saya berjumpa dengan seorang sahabat yang bekerja di bagian pembelian sebuah proyek eksplorasi minyak milik asing rekanan Pertamina di Kalimantan Timur, sahabat tersebut selalu meminta komisi kepada suppliernya sebelum memberikan order kebutuhan barang, tujuan sahabat tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menambah pendapatan guna memenuhi kebutuhan duniawi keluarganya.  ketika saya dikenalkan dengan istri dan keluarganya, beberapa waktu kemudian, saya baru sadar bahwa sebenarnya apa yang dia kerjakan juga tercermin melalui istrinya, sahabat saya tersebut selalu dituntut oleh istrinya walaupun tidak secara langsung untuk memenuhi kebutuhan yang berlebih, istrinya selalu meminta dan menuntut  kebutuhan yang berlebih dari suaminya, bukannya ini adalah cermin diri sendiri !

            Pernah suatu hari ketika saya masih bertugas di dunia perbankan, saya mengunjungi sebuah perusahaan manufaktur biskuit, yang ditemui oleh pemiliknya sebut saja Bapak Herman, beliau sangat ramah dan perhatian, melayani setiap pertanyaan yang saya ajukan dengan jujur dan terbuka, tidak ada satupun yang disembunyikan. Dan waktu itu saya menarik kesimpulan memang beliau orang yang ramah dan terbuka serta jujur, ketika tiba waktunya saya cek lapangan langsung pada karyawan, ternyata kesimpulan karyawannyapun pada Bapak Herman sama dengan saya, dan hebatnya sebagian besar karyawannya juga meneladan akan apa yang dilakukan pemilik perusahaan tersebut. Sekali lagi sebuah indikator terjadi, apabila dicermati lebih dalam, pencerminan perlakuan pemilik terhadap karyawan selalu berbekas bagai cermin pada diri sendiri.  

            Saudaraku, sangat perlu kita selalu bercermin untuk merefleksikan segala tindak perbuatan kita  dengan cara, mengamati dengan seksama dengan pikiran tenang, apa respon sikap dan tindakan yang karyawan perbuat terhadap kita, dengan demikian saya pikir tidak akan ada unjuk rasa menuntut keinginan sepihak. Hubungan industrial antara karyawan dan management akan terjalin dengan harmonis, karyawan merasa memiliki perusahaan dan loyal, sehingga mereka tergerak secara hati nurani untuk menyumbangkan hasil yang paling baik untuk pimpinannya.

            Apabila kita setiap hari bercermin, untuk melihat kerapian baju, keserasian dandanan, mengapa kita juga tidak setiap hari bercermin bahwa tindakan kita sudah membawa pengaruh baik bagi karyawan atau belum. Apabila didapat hasil yang kurang, penanganan masih belum terlalu rumit, dilakukan.  Bukankah pencegahan, pembenahan lebih baik dari pada pengobatan atau amputasi.

            Tuhan Yesus  sangat mencintai kita, bukan hanya setiap hari, tetapi lebih dari itu, Dia selalu melengkapi anak-anaknya dengan cermin tersebut agar setiap detik apa yang dilakukan, baik atau buruk selalu dirinya diingatkan. 

Saya merasakan bagaimana indahnya sebuah rumah tangga, apabila selalu merefleksikan diri, untuk saling iling, mengevaluasi akibat atau resiko dari setiap tindakan yang dilakukan, akan ada kebahagiaan disana. Dan apabila kita menyadari dan menginginkan kenapa harus menunggu besok untuk menindaklanjuti.

This entry was posted in Motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s