Mintalah Dengan Tulus Apabila Dirasa Perlu


             Ketika saya membaca sepenggal biografis yang ditulis di surat kabar tentang seorang Hermawan, CEO dari Markplus, beberapa waktu yang lalu, diceritakan disitu bahwa beliau sebelum menekuni bidang marketing advisor adalah salah seorang direktur Pabrik Rokok terkenal, Merk Sampoerna dengan penghasilan yang cukup untuk seorang yang memiliki jabatan tinggi. Karena mengikuti kata hatinya, beliau meninggalkan pekerjaan yang prestisius untuk mengambil bidang pembicara atau tranner di bidang marketing. Tetapi diawal usahanya ternyata tidak semulus yang direncanakan, sudah hampir 6 bulan  beliau mencari order kemana-mana tetapi tak satupun yang memberi, jabatan tinggi di pabrik rokok terkenal ternyata tidak ada nilai jual di tempat lain, diceritakan dengan perasaan sedikit malu dan membuang gengsi, beliau akhirnya mendatangi, Presdir Sampoerna, tempat dimana beliau pernah bekerja, untuk meminta pekerjaan sebagai tenaga pelatih, karena potensi yang sudah dikenal pada pabrik rokok tersebut, presdir Sampoerna memberikan pekerjaan untuk  melatihan kepada seluruh karyawan secara bertahap, dari situlah awal jantung Markplus berdenyut.

            Pada kisah lain ketika sebuah agen asuransi menanyakan kepada sebuah calon cliennya, yang sudah lebih dari 10 kali di datanginya, kenapa anda tidak membeli polis asuransi kepada saya, tetapi membeli polis asuransi milik perusahaan lain, padahal saya sudah 10 kali mendatangi anda, dan hubungan anda dengan saya sudah sedemikian dekat,  jawab calon clien tersebut dengan enteng, ya memang anda sudah sering kali mendatangi saya tetapi anda tidak meminta saya untuk membeli.

            Saudaraku, perasaan malu, gengsi ternyata melewatkan kesempatan yang seharusnya kita dapat, bahkan kadang kala berani meminta dengan tulus iklas tanpa harapan yang berlebih akan mendapatkan jawaban yang tidak terduga.

            Ketika saya masih bertugas di dunia perbankan, dan bidang marketing tempat saya bekerja, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengenal dan mengetahui dengan pasti apa yang nasabah butuhkan, walaupun saya membawa misi untuk menawarkan produk saya kepada calon customer tersebut, tetapi itu semua saya simpan dalam-dalam, saya beranggapan bahwa dengan mengenal customer terlebih dahulu, akan lebih mudah menjual produk saya. Setelah saya tahu apa yang dibutuhkan maka saya beranggapan dengan sekali tembak maka akan tepat ke sasaran.  Memang apa yang saya lakukan memerlukan waktu yang relatif lama, tetapi setelah saya dapat masuk ke dalam lingkaran kehidupan customer hasil yang didapat sangat luar biasa, tentu saja kata kuncinya adalah permintaan dengan tulus tanpa harapan berlebih.

            Tuhan Yesus sendiri mengatakan, mintalah maka engkau akan diberikan dan ketuklah maka pintu akan dibukakan untuk mu.

Kadang sangat berat pikiran kita untuk memerintah tangan bertindak mengetuk, mulut kita bertindak memohon, karena pikiran tinggi hati dan perasaan malu walaupun membutuhkan. Yang harus selalu kita ingat adalah memohon secukupnya saja tanpa harapan berlebih, apabila permohonan kita ditambahi keinginan lebih atau serakah  hasilnya tentu saja berbeda.

            Beberapa bulan yang lalu saya berjumpa dengan teman yang sukses usaha sendiri di bidang pembangunan Ruko, sebut saja namanya Santoso,  beliau membeli rumah tinggal dengan harga pantas, kemudian merobohkan dan mendirikan ruko untuk dijual dengan harga berlipat, usaha tersebut ditekuni sejak 7 th yang lalu setelah keluar dari dunia perbankan. Apabila saat itu tidak ada peraturan pemerintah untuk melikuidasi sejumlah bank maka Santoso masih tetap berkarier di dunia perbankan. Saya menanyakan bagaimana kisah hingga menjadi sukses usaha sendiri.  Nampaknya perasaan yang sama pernah saya rasakan diawal memulai usahanya, Santoso  benar-benar binggung mau memulai usaha dari mana, tidak ada satupun pikiran untuk usaha property seperti saat ini, Santoso hanya datang dan berkunjung ke customernya yang sudah aktif di usaha property, dia menceritakan semua kesulitan dalam hidupnya dengan tulus, dan tanpa diduga sang customer mengajak Santoso untuk bergabung, demikian seterusnya hingga saat ini ybs sukses dibidang property, usaha  baru yang dirintis setelah meninggalkan dunia perbankan.

            Sahabat Santoso menceritakan dengan tulus pada tempat yang tepat pada orang yang tepat hingga hasilnya sesuatu diluar dugaan. Maka meminta dengan tulus di saat memerlukan, disitulah awal dari suatu perubahan yang tak terduga diawali.

This entry was posted in Motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s