Hal Kekuatiran Hidup


            Alkisah seorang pengusaha, yang sangat rajin bekerja siang hingga tengah malam,  mengejar keuntungan menumpuk harta kekayaan, sang pengusaha selalu memompa semangatnya setiap hari agar tidak kehilangan semangat yang merupakan sumber kekuatan untuk bekerja walaupun kondisi sakit sekalipun, hingga lupa hukum kesimbangan  hidup sedang berjalan, dikerahkan segala daya upaya untuk terus menyimpan keuntungan yang didapat. Dia selalu menghitung segala pengeluarannya, biaya hidupnya, kebutuhan istrinya, kebutuhan sekolah anak-anaknya, dan seterusnya, hingga kekuatiran hidupnya terus mengikuti kemana dia pergi.

Suatu hari datanglah seorang pendeta Budha menegur pengusaha tersebut, mengapa  engkau selalu membawa beban di punggungmu, beberapa waktu yang lalu masih tampak kecil ketika saya lewat, tetapi baru satu minggu sudah bertambah besar. Lepaskanlah dan biarlah semua berjalan dengan aliran Sang Hidup, Pengusaha tersebut menjadi kaget karena tidak mengerti apa arti kata Sang Pendeta. Kata-kata pendeta menguap begitu saja karena  pengusaha tidak menanggapinya dengan benar, dan 2 bulan kemudian Sang Pengusaha sudah berbaring sebagai jenasah, ketika dikunjungi oleh pendeta tersebut. Tetapi  hal yang samapun dilakukan oleh istri sang pengusaha. Kenapa orang cenderung menumpuk kekuatiran dan sulit melepaskan sesuai aliran Sang Hidup, kata pendeta didalam hati.   Hal kekuatiran adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan “obat” pelepasan dan kepasrahan total kepada Sang Hidup. Bekerjalah dengan sebaik-baiknya dan dengan sepenuh hatimu, karena itu kewajibanmu, janganlah memikirkan upah atas jerih payahmu, karena Dia tau nilai yang akan ditambahkan kepadamu, selanjutnya serahkan kepada Sang Hidup sebagai pelepasan atas jerih payahmu .

(Lukas 12. 22-34)  Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, jangan pula kuatir akan tubuhmu apa yang hendak engkau pakai, sebab hidup ini lebih penting daripada apa yang kamu makan, dan tubuh itu lebih penting dari apa yang kamu pakai. Perhatikan burung-burung gagak yang tidak menabur atau menuai dan memiliki gudang atau lumbung tetapi diberi makan oleh Allah.

Siapa yang diantara kamu karena kekuatiranmu menambah sehasta jalan hidupnya?   jadi  jikalau engkau tidak sanggup membuat barang yang paling kecil, mengapa engkau kuatir akan hal-hal yang lain?  Kamu memang memerlukan semuannya tetapi carilah dulu kerajaan Allah maka semua akan ditambahkan kepadamu. Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, dan harta disurga yang tidak pernah habis, yang tidak dapat didekati oleh pencuri dan dirusak oleh ngengat, karenannya dimana hartamu berada disitu hatimupun berada.

 

HAL MENGATASI KEKUATIRAN HIDUP ADALAH

BERPASRAH KEPADANYA.

This entry was posted in Renungan: Sejenak Berhenti Untuk Minum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s