Dosa Di Dalam Tindakan dan Pikiran


 Dua orang rahib budha dalam perjalananya pulang kembali ke biaranya, bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik jelita di tepi sungai, seperti mereka, wanita itupun ingin menyebrangi sungai. Sayang airnya terlalu tinggi, maka salah seorang rahib itu mengendongnya sampai diseberang. Rahib yang satunya merasa mendapatkan batu sandungan. Selama dua jam penuh ia mencaci maki temannya, karena lengah mematuhi peraturan suci: apakah ia lupa , bahwa ia seorang rahib ? Bagaimana sampai ia berani menyentuh seorang wanita ? dan yang lebih lagi, mengendongnya menyebrangi sungai ? lalu bagaimana kata orang nanti ? Apakah ia tidak merendahkan martabat agamanya ? dan begitu seterusnya.

Rahib yang bersalah itu dengan sabar mendengarkan kotbah yang tak habis-habisnya itu. Akhirnya ia menyela : ‘ kawanku, aku sudah meninggalkan perempuan tadi di pinggir sungai, apakah engkau masih tetap membawanya ? Seorang Sufi Arab, Abu Hassan Bushanja, berkata : Dosa sebagai perbuatan tidak begitu parah dibandingkan dengan keinginan serta pemikiran tentang dosa itu, Memang untuk sesaat tubuh membiarkan perbuatan senang, namun berbeda sekali dengan budi dan hati yang mengunyah-ngunyah tiada habis-habisnya. 

Apabila seorang yang patuh pada agamanya dengan tiada habisnya mengunyah –ngunyah dosa yang dilakukan oleh orang lain, timbulah kecurigaan, bahwa mengunyah itu lebih memuaskan, dari pada berbuat dosa menyenangkan si pendosa.

This entry was posted in Renungan: Sejenak Berhenti Untuk Minum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s