Setetes Kasih Mengalahkan Segalanya


Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membaca sebuah kisah yang cukup menarik, terjadi wilayah Rusia, pecahan Uni Soviet, ketika itu akhir musim dingin, awal musim semi, sehingga salju yang ada masih sedikit yang  mencair, salju masih berserakan dimana-mana. Walaupun akhir musim dingin suhu udara tetap mendekati angka 0 derajat,  seorang anak yatim piatu, dengan pakaian seadanya mengetuk dari pintu ke pintu untuk meminta makan, karena sudah 2 hari ini si anak tersebut belum makan sedikitpun, kedua orang tua dan saudaranya tidak diketahui, karena waktu itu terjadi perang  saudara, perpecahan koloni Uni Soviet menjadi negara-negara kecil yang merdeka. Ketika terjadi perang saudara tersebut keluarga si anak kecil tercerai berai hilang entah kemana. Kondisi perekonomian hancur dan kelaparan terjadi dimana-mana, setiap keluarga yang masih beruntung menghemat makanannya hanya untuk anggota keluarga sendiri. Maka memang benar adanya ketika si anak mengetuk pintu untuk meminta makan, tidak ada satupun penduduk kota tersebut yang bersedia berbagi makanan dengan orang asing. Mereka lebih memikirkan diri nya, keluarga dan saudaranya.

Anatoli Silovac ( 45 th), adalah salah satu keluarga yang ada di wilayah itu, yang masih lebih beruntung karena hanya istrinya Christina yang terpisah  ketika mengungsi ke wilayah tersebut. Seperti halnya keluarga lain mereka sangat ketat menjaga bahan makanan. Tetapi ketika anak tersebut mengetuk pintu rumahnya, tergeraklah hatinya, hatinya membimbing untuk memberikan tindakan tulus, biarlah jatah segelas susu saya untuk menahan lapar satu hari ini saya berikan ke anak tersebut, saya lebih tua dan kuat katanya dalam hati.  Setelah menghabiskan susunya dan mengucapkan terima kasih, si anak lantas pergi menghilang entah kemana.

25 Tahun lewat, kota yang hancur sudah berubah total, perekonomian sudah kembali pulih seperti sedia kala, pembangunan terjadi disana sini.  Tetapi nasib lain menghantar Silovac diusia senjanya, dia harus hidup sendiri dengan sisa tabungan yang dimiliki, anak-anaknya bekerja dan berkarier di kota lain dan tidak peduli dengan dirinya, anak-anaknyapun hidup dengan sederhana, dan pada suatu hari ketika akan berbelanja bahan makanan untuk keperluan seminggu, sebuah mobil yang dikemudikan seorang yang dipengaruhi minuman keras menghantam dirinya hingga terpental 3 meter, segera Silovac dibawah ke rumah sakit untuk diperiksa dan ditangani dengan benar. Beberapa saat kemudian dokter memutuskan bahwa hanya tangan  dan kakinya yang patah, serta sedikit ada memar didalam tubuhnya, beruntung lah benturan keras yang mengenai kepalanya tidak membuat gegar otak, mengingat usia Silovac sudah senja. Team dokter yang dikepalai oleh seorang dokter ahli segera mengoperasi dan merawat sehingga 4 minggu kemudian Silovac bisa menjalani rawat jalan.

Ketika Silovac akan menyelesaikan keuangan rumah sakit dari berhutang kepada tetangganya sebab asuransi Negara masih belum mencukupi,  dan  sisa tabungannya hanya tinggal beberapa puluh rubel,  si Anatoli tua, sangat terkejut karena di dalam Billing tertulis,  seluruh biaya di rumah sakit gratis karena sudah terbayar dengan segelas susu.

Saudaraku rencana Tuhan pada manusia sangat indah, ada kalanya manusia diletakkan pada posisi diatas, dan selanjutnya kembali menempati posisi dibawah, pada saat diatas ada baiknya kita menebar benih kasih ke pada siapapun, tanpa pamrih tanpa harapan sedikitpun, karena itu adalah kewajiban kita, jadi tidak perlu meminta imbalan. Sehingga pada saat dibawahpun kita sudah sadar bahwa tetap kita harus menjalankan kewajiban dengan menebar kasih.

Sebab benih kasih akan tumbuh dan berkembang membentuk buah buah yang sangat indah dan tanpa diharapkanpun akan memberi kebahagiaan yang mengalahkan segalanya pada diri kita.

Setetes air yang sangat lunak, dan lemah, mampu membuat batu cadas keras berlubang hanya karena dilakukan secara terus-menerus secara konsisten.

Didalam Injil sudah dituliskan, Kasih, Iman dan Harapan, yang tertinggi adalah kasih. Walaupun engkau memiliki iman sebesar biji sesawi, dan dapat memindahkan gunung, tetapi apabila tidak memiliki kasih, sama halnya seperti Gong yang bergema dan  canang yang bergemerincing.

Kasih itu murah hati, lemah lembut, tidak memegahkan diri, sabar dan rela menolong untuk orang lain dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersuka cita karena ketidak adilan, tetapi karena kebenaran, ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu, tiada kasih yang lebih besar kecuali seorang sahabat yang rela berkorban dan bahkan memberikan nyawanya mati dikayu salib untuk  menebus dosa-dosa manusia. (II Korintus 9, 6-9).

Saudara ada suatu cerita menarik yang dapat kita simak tentang kasih. Sebut saja namanya ibu Gondo, memiliki anak tunggal benama Krishna, Krishna sendiri memiliki istri bernama  Dewi Puspa, karena anak tunggal maka ibu Gondo mengharuskan anaknya untuk tinggal bersama dalam keluarga besar tersebut.  Satu tahun pertama perkawinan mereka hubungan menantu mertua terjalin sangat harmonis, hubungan Dewi Puspa sebagai menantu dan Ibu Gondo, sebagai mertua sangat baik sekali, karena Dewi Puspa, melayani dengan sangat baik, tetapi ketika anak pertama lahir, perhatian Dewi menjadi terpecah dan sebagian terfokus pada anaknya, dan Ibu Gondo menjadi terabaikan, akibatnya timbul perasaan benci dan sakit hati, karena tidak siap menerima perubahan tersebut, bulan berganti tahun, hubungan semakin renggang hingga puncaknya Ibu Gondo berencana  mendesak Krishna anaknya untuk segera menceraikan istrinya yang sudah menyakiti hatinya. Krishna semakin bimbang karena kecintaannnya pada ibunya dan juga pada istrinya sama-sama besar membuat  Krishna lebih banyak berdiam diri.  Sedangkan pada pihak menantu karena kekesalan Dewi sudah memuncak, maka Dewi pun berencana untuk menghabisi Ibu Mertuanya, kebencian mereka berdua sudah diatas ubun-ubun. Singkat cerita Dewi Puspa mendatangi orang bijak memohon agar dapat diberikan cara yang paling baik untuk menghabisi mertuanya. Tanpa bukti-bukti yang nantinya dapat memberatkan secara hukum.

Orang bijak tersebut berpikir bagaimana dapat memenuhi permaintaan Dewi tersebut , akhirnya dipanggilah Dewi Puspa tersebut setelah 3 jam menunggu, ini saya buatkan racun yang nomer satu, saya buat untuk 5 bulan minum agar tidak terlacak, tolong disajikan setiap hari, apabila mengkonsumsi air ini setelah 5 bulan langsung terkena penyumbatan pembuluh dara sehingga akhirnya meninggal. Tetapi disyaratkan bahwa untuk memberikan minuman yang sudah dicampur racun tersebut, harus dengan sepenuh hati, harus dilakukan  dengan lemah lembut dan penuh dengan kasih supaya tidak menimbulkan kecurigaan.

Dengan senang hati si Dewi menerima, dan pikirannya langsung memiliki bayangan-bayangan indah setelah mertuanya tidak adalah lagi.

Minggu pertama Dewi Puspa memberikan minuman tersebut dengan sopan dan melayani,  Ibu Gondo sendiri pertama-tama masih memiliki pikiran jelek, dengan selalu menaruh sikap curiga, tetapi  minggu berganti bulan, tidak terasa  sikap Ibu Gondo berubah, dulu membenci sekarang sangat mengasihi, karena pelayanan Dewi Puspa yang tulus ikhlas,  walaupun pelayanan diberikan dengan maksud untuk menghabisi Ibu Mertuanya.

Memasuki bulan ke 4, Sikap ibu Gondo melunak, dulu membenci sekarang menjadi benar-benar cinta, karena mereka saling mengasihi dan mencintai dengan saling melayani. Tiba-tiba Dewi teringat bahwa minuman yang diberikan mengandung racun kontak dengan reaksi lamban, dan karena sikap ibunya benar-benar pas dihatinya, membuat Dewi gemetaran, dia merasa berdosa, bersalah telah meracuni ibu mertuanya yang sebenarnya sangat menyayanginya. Cepat-cepatlah Dewi pergi ke orang bijak dengan maksud mencari penawar atas racun tersebut.

Tetapi orang bijak yang dicari tidak kunjung dijumpai, hati semakin gundah dan cemas memikirkan perbuatannya, setelah satu minggu berjibaku akhirnya orang bijak tersebut dapat dijumpai. Dewi menceritakan perubahan pada mertuanya dan menginginkan penawar racun untuk membatalkan niatnya tersebut. Tetapi orang bijak tersebut mengatakan bahwa racun itu tidak ada penawarnya.

Dewi semakin pucat dan merasa menyesal akan tindakannya, tetapi orang bijak tersebut kemudian tersenyum lebar, memang tidak ada penawarnya sebab yang saya berikan adalah bukan racun hanya ramuan kasih, yaitu air putih saja ditambahkan resep kasih. Segera setelah mendengar hal tersebut, tanpa disadari sebutir air mata menetes dari mata Dewi, perasaan sedih bercampur bahagia ada didalam hati Dewi, Dia sedih karena sudah berpikiran jelek hingga ada niat untuk membunuh dan bahagia karena  masih diberi waktu untuk menebusnya.

Saudaraku hanya karena senjata melayani tanpa pamrih dengan sungguh-sungguh, penuh cinta dan kasih, maka seseorang bisa merubah yang jelek sekalipun menjadi baik.  Tidak perlu terlalu tinggi, cukup satu hal kecil, lakukan dengan kasih dan layani dengan baik, maka saya yakin semua akan berubah.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s