Penghargaan Lebih Tinggi Nilainya dari Gaji


Apabila kita membaca, expedisi di Himalaya, untuk menaklukan  puncak mount everest, atau ekspedisi di Kutub Utara atau Selatan, seringkali biaya yang dibutuhkan oleh team expedisi tersebut berasal dari milyuner, atau university, atau pemerintah atau dana ilmu pengetahuan seperti National Geografic dan seterusnya. Bagi badan ilmu pengetahuan, atau university  yang mensponsori itu adalah wajar karena mereka mengejar ilmu, tetapi bagi seorang milyuner atau perusahaan rokok,  minuman, tentu saja ada imbalan yang harus diberikan kepada pihak sponsor tersebut .  Ada banyak macam persyaratan sponsor seperti  menginginkan bendera perusahaan dipasang di tujuan, atau bahkan ada yang menginginkan namanya digunakan sebagai nama puncak pegunungan es tujuan.  Inti dari ini semua adalah pihak sponsor menginginkan penghargaan atas biaya yang telah dikeluarkan.  Mereka menginginkan penghargaan walaupun harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, mereka rela membeli penetapan sosio kemasyarakatan  akan kebesaran namanya.

Bagaimana dengan saudara kita masyarakat bawah, nampaknya hal yang sama juga berlaku dalam kehidupan sosial saudara kita ini, hanya saja karena kehidupan sangat sederhana  dan tidak memiliki harta yang berlimpah membuat cara mereka sangat berbeda.  Pernah suatu ketika, saya mendengar salah satu staff marketing sebuah BPR di kota Malang, melakukan penagihan kepada debitur akan kewajiban angsurannya yang sudah menunggak 7 bulan, bukannya penyelesaian yang didapat tetapi ancaman pembunuhan yang timbul, ketika saya telaah lebih dalam, ternyata entah sadar atau tidak, ucapan staff BPR tersebut  menyinggung perasaan debitur tersebut, dia merasa harga dirinya diinjak-injak, harga dirinya dilecehkan, sehingga menjadi marah besar dan gelap mata. Memang benar bahwa saudara kita masyarakat bawah, tidak memiliki harta yang berlimpah, tetapi harta satu-satunya berupa harga diri, tetap dipertahankan lebih dari emas dan permata.

Saudara, didalam kehidupan perdagangan atau usaha, tidak pernah lepas dari adanya dukungan seorang karyawan, entah bertugas sebagai kasir, pelayan, pengantar atau staff lainnya, mereka semua juga memiliki perasaan yang sama sebagai seorang manusia, ingin dihargai sebagaimana porsi kewajaran. Kunci penghargaan ini lah yang seringkali dilupakan dalam porsi managerial dimanapun berada.

Kunci penghargaan dalam porsi kewajaran inilah yang ternyata mampu untuk mengerakkan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dengan hasil yang memuaskan tanpa ada paksaan, kesadaran akan muncul dengan sendirinya karena mereka dianggap dan dilibatkan sebagai bagian dari team usaha. Kadang kala kita lupa bahwa keberhasilan usaha bukan hanya karena keahlian, kerja keras kita seorang tetapi lebih mengarah kepada kerja team yang sudah terbentuk, berjalan saling mengisi dan melayani.

Maka setelah saudara diingatkan akan hal ini, belum terlambat untuk merubah sikap terhadap karyawan yang dengan setia melayani dan mendukung kita setiap hari, yang kita terlantarkan. Dan ada yang perlu disadari bahwa penghargaan tidak selamanya dapat diukur dengan gaji, lebih dari itulah yang diminta seorang pribadi manusia.

Ada suatu kisah sederhana yang menarik untuk disimak, sebuah keluarga yang kebetulan memiliki keberuntungan dengan harta berlimpah hasil dari kerja kerasnya, sebagai seorang dokter specialis.  Dari hasil kerja kerasnya dokter tersebut berhasil mengumpulkan rumah mewah dan mobil mewah serta memiliki pembantu  4 orang yang melayani dan merawat setiap hari, tetapi istri dari dokter specialis  tersebut hampir setiap minggu selalu mengeluh, karena turn over pembantunya sangat tinggi, recruit baru, beberapa minggu kemudian keluar, demikian seterusnya, hingga membuat gerah istri dokter tersebut.

Semula  saya berpikir biasalah apabila seorang pembantu keluar beberapa minggu setelah bekerja mungkin karena proses adaptasi tidak berjalan dengan baik, tetapi belakangan baru saya ketahui, ternyata istri dokter tersebut melupakan kata-kata bijak bahwa  penghargaan nilainya lebih tinggi dari gaji,  walaupun pendidikan tinggi tetapi istri dokter tersebut lebih mengikuti nafsu duniawi, mengesampingkan nalar yang sudah diasah, kepuasan diri sendiri yang sifatnya sesaat terus dipelihara dan dikembangkan.

Saudara, ketika kita diatas kita lupa bahwa kita pernah dibawah, tetapi ketika kita dibawah kita selalu ingat pernah diatas, hal itulah yang menyebabkan virus  yang disebut kesombongan, atau putus asa, dua kutub ini sangat sulit untuk disembuhkan tanpa keinginan kuat untuk berubah, dan yang lebih berbahaya virus ini mudah menyebar ke organ yang lain.

Apabila kita mencoba untuk merenungkan  lebih dalam bahwa saudara dan saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai seorang pribadi didalam posisi saat ini, tetapi ucapan syukur akan posisi kita saat ini sungguh sangat berpengaruh, mungkin kita dilahirkan dalam posisi lebih beruntung dengan keluarga berkecukupan, mengenyam pendidikan tinggi. Tetapi didalam peran yang lain, ada saudara kita yang dilahirkan dalam keluarga sangat kekurangan, bahkan untuk makan saja harus mengais di TPA Sampah, makan didapat setelah menjual barang bekas hasil mengorek-korek sampah yang masih berharga.  Ada baiknya kita duduk sejenak meresapi, bahwa itu hanya peran dalam hidup, peran yang diatur oleh Sang Kuasa, bagaimana apabila Sang Kuasa menghendaki bertukar peran, apa kuasa kita menolaknya ! Maka ada baiknya apabila kita menyadari hal ini, selagi kita masih bernafas tidak ada yang salah apabila kita merubah semuanya saat ini bukan nanti, siapa tau sejam lagi kita terlambat.

Penghargaan sebatas kewajaran sebagai seorang pribadi manusia, bukan diukur dalam uang, mereka hanya menuntut batas yang seharusnya diterima tanpa ada maksud yang lain.

Apabila kita mencoba untuk mengingat pelajaran Sekolah dasar kita, Para Pejuang Kita bisa mengusir penjajah hanya karena merasa satu rasa, satu tujuan, dan ada suatu penghargaan apabila mati untuk membela tanah airnya. Sehingga apabila kita ingin menerapkan management yang baik, lakukan dengan system professional, tetapi tidak meninggalkan bahwa karyawan adalah asset perusahaan yang sangat berharga, timbal balik akan nampak apabila kita lakukan dengan benar, loyalitas dan dedikasi karyawan akan muncul melebihi perkiraan kita.  Yesus Tuhan pernah mengatakan kepada murid-muridnya, ketika muridnya mempersoalkan siapa diantara mereka yang lebih besar. Dikatakan tidak ada satupun yang lebih besar diantara kalian kecuali Bapaku tetapi barang siapa yang ingin menjadi lebih besar diantara yang lainnya, hendaknya kamu  sanggup melayani lebih dari yang lain.

TIDAK ADA LAGI HARGA YANG PALING MAHAL

KECUALI HARGA DIRI,

MAKA APABILA INGIN MENDAPATKAN

DENGAN MURAH, GUNAKAN IMBALAN KASIH

KESADARAN INI MEMBUAT DIRI KITA

MENJADI MAHAL DIMATA ORANG TERSEBUT.

This entry was posted in Motivasi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s