Pengendalian Emosi Membentuk Kekuatan Besar


Ketika pasukan Inggris memperluas jajahannya di India, munculah seorang tokoh besar yang tersohor hingga saat ini, yaitu Mahatma Gandi, seorang yang memiliki jiwa besar dan kehidupan rohaninya sudah mencapai tingkat tinggi, hidup dengan kesederhanaan dan jauh dari kemewahan, apalagi korupsi,  Mahatma Gandi tergerak untuk melawan kekuatan emosi penjajah, hanya dengan jalan-jalan damai, tanpa kekerasan, pengendalian emosi dari pengikutnya dengan cara memproduksi bahan, pakaian, makanan dan seterusnya untuk dipakai sendiri dan dibagikan kepada sesamanya, hanya untuk penduduk lokal saja bukan dijual kepada penjajah. Hasil akhir telah diketahui menjadi pukulan telak bagi pemerintah Inggris.

Demikian juga Yesus Tuhan, pada saat peristiwa penyaliban, Yesus menghilangkan sama sekali emosinya, dengan mengikuti setiap jalannya penyiksaan, hingga wafat dikayu salib. Yesus berusaha menggugah kesadarannya untuk menahan emosi dengan berpasrah kepada Bapa dan tetap menanamkan pada dirinya bahwa mereka tidak tau apa yang dikerjakannya.  Akibat pengendalian tersebut didapatlah Kekuatan besar yang terjadi pada manusia dan dirinya sendiri, manusia ditebus dosanya, dan Yesus dimuliakan di Surga. Yesus Tuhan sebenarnya dengan Ke MahaanNya, mampu merubah semuanya dalam sekejab apabila Dia mengikuti emosinya, tetapi Dia mampu mengendalikan, untuk tujuan yang lebih mulia. Pengendalian Emosi, atau management emosi memang benar membentuk kekuatan yang besar, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain yang berniat baik ataupun buruk, hanya waktu yang akan berbicara. Karena Tuhan sendirilah yang melengkapi ciptaanya dengan kekuatan ini.

Apabila kita mengamati kekuatan air, banjir besar misalnya, banjir akan menerjang, merusak, dan menenggelamkan semua yang dilaluinya, bahkan bukit atau rumah betonpun akan hancur disapu oleh kekuatan air yang tidak terkendali. Tetapi apabila kekuatan itu dapat dikuasai, disalurkan dan dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin listrik, keluarlah kekuatan listrik dengan takaran yang sangat kuat.

Saudaraku sama halnya dengan pengendalian emosi, akan membentuk kekuatan yang sangat besar, dan ketika hasilnya nampak kita menjadi terkejut karenanya, karena semua sudah dirancang oleh ahlinya, yaitu Sang Pencipta.   Ada  suatu  cerita  menarik  yang  pernah  saya   alami.

Suatu hari ketika saya dan istri sedang didapur, tiba-tiba terdengar suara benda keras menghantam pintu garasi rumah, seketika itu juga saya berlari menuju depan rumah untuk melihat kejadian apa yang sesungguhnya.

Istri saya jadi emosi, dan marah besar ketika melihat batu kali sebesar genggaman tangan anak kecil tergeletak di bawah pintu tersebut, nampaknya yang membuat bunyi keras tersebut adalah ada seseorang yang melempar batu tersebut kearah pintu garasi, Tetapi tidak seorangpun tampak di jalan depan rumah. Istri saya terus mencari-cari dengan nada marah besar, dengan tujuan mencari jawaban atas peristiwa tersebut. Untunglah saya tidak ikut-ikutan marah, karena saya berpikir marahpun tidak menyelesaikan masalah. Alasan lain  karena ketika bunyi batu tersebut menghantam pintu, tidak terdengar bunyi kendaraan, ditambahkan fakta bahwa setelah dicari-cari tidak ada seorangpun dijalan. Akhirnya saya menyimpulkan pasti ada tetangga yang sakit hati dengan perbuatan saya atau istri tanpa disadari,  saya merenung dan memeriksa sikap, tindakan dan kata yang mungkin menyinggung seseorang dan memacu untuk berbuat demikian. Beberapa jam kemudian saya panggil istri,  saya katakan apakah kita mau tau siapa pelakunya tanpa menuduh dan mencari-cari, dia katakan bagaimana caranya, mungkin sedikit konyol tapi pasti effektif, saya katakan.

Setelah disetujui, langkah saya berikutnya adalah mengambil batu kali tersebut saya bungkus dengan plastik transparan dan saya gantung dengan pita merah  didepan rumah agar semua orang akan lihat bila melaluinya. Saya berpikir bahwa perasaan bersalah pada pelaku yang akan menghakimi pada diri sendiri, entah kapan waktunya saya berpasrah saja, tetapi ternyata responnya tidak terduga.

Dan dugaan saya tidak salah, beberapa hari kemudian ada suami dari tetangga menanyakan, lho ini kog ada batu kali digantung didepan rumah, apa ada maksudnya. Saya katakan, tanpa beban oh iya benar, beberapa hari yang lalu ada orang gila melempar batu ke pintu garasi, saya gantung sebagai peringatan buat saya untuk hati-hati.  Seketika itu juga wajah suami tetangga tersebut menjadi merah, dan segera bergegas pulang, sesaat kemudian saya mendengar dia berkelahi dengan istrinya, dan beberapa hari setelahnya istri tetangga datang kerumah untuk meminta maaf.  Siapapun yang salah tidak dipersoalkan tetapi permintaan maaf tersebut adalah akhir kisah yang mengharukan.

Didalam setiap pikiran manusia, Tuhan sudah menciptakan hal yang baik dan buruk, tergantung bagaimana kita mengisinya melalui jalan rohani kita, kalau yang diisi baik maka yang keluar adalah hasil yang baik, demikian juga sebaliknya. Kalau diisi buruk pasti keluarnya buruk. Sebaiknya kita berusaha untuk melatih, dengan mau mendengar hal yang baik tersebut, didalam pikiran kita.

Tetapi tidak sedikit kepekaan pikiran tersebut menjadi hilang sama sekali, pikiran yang disalurkan melalui hati nurani (roh), ditutup oleh berbagai prasangka buruk, tindakan buruk, seperti membunuh, mencuri, memfitnah, berselingkuh, korupsi dan seterusnya, saya tetap yakin sebelum seorang manusia melakukan tindakan tersebut ada peperangan dalam hati, ada kata-kata roh yang mengingatkan, tetapi menjadi gelap tertutup karena Emosi tinggi yang tidak terkendali, dengan mengendalikan emosi tinggi akan didapat jawaban atas tindakan nyata yang dapat kita tidak lanjuti, untuk kebaikan bersama.

Didalam peristiwa yang saya alami, batu tergantung tersebut nampaknya sebagai pemicu, rasa bersalah bagi yang melakukan tindakan tersebut. Tetapi dengan penyesalan, permintaan maaf akan meredakan suasana, adalah berjiwa besar apabila kita telah salah, kilaf untuk mengakui dan meminta maaf dengan sungguh-sugguh untuk tidak melakukan secara berulang.

Yudas Iskariot, dihakimi oleh dirinya sendiri, sehingga rasa bersalah didalam dirinya semakin besar tindakan kotor dengan menjual Yesus Tuhan adalah pemicunya yang menyebabkan dirinya mengakhiri hidupnya, dengan gantung diri.  Apabila Yudas Iskariot, mencoba tenang  dan mengendalikan emosi, kemudian menghadap Yesus Tuhan, walaupun lewat doa, dengan sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dan tidak mengulangi lagi, saya yakin Yesus Tuhan mengampuni Yudas.

Pengendalian Emosi akan membentuk kekuatan perubahan besar baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri.

 

PENGENDALIAN EMOSI MEMBENTUK KEKUATAN BESAR

Ketika pasukan Inggris memperluas jajahannya di India, munculah seorang tokoh besar yang tersohor hingga saat ini, yaitu Mahatma Gandi, seorang yang memiliki jiwa besar dan kehidupan rohaninya sudah mencapai tingkat tinggi, hidup dengan kesederhanaan dan jauh dari kemewahan, apalagi korupsi,  Mahatma Gandi tergerak untuk melawan kekuatan emosi penjajah, hanya dengan jalan-jalan damai, tanpa kekerasan, pengendalian emosi dari pengikutnya dengan cara memproduksi bahan, pakaian, makanan dan seterusnya untuk dipakai sendiri dan dibagikan kepada sesamanya, hanya untuk penduduk lokal saja bukan dijual kepada penjajah. Hasil akhir telah diketahui menjadi pukulan telak bagi pemerintah Inggris.

Demikian juga Yesus Tuhan, pada saat peristiwa penyaliban, Yesus menghilangkan sama sekali emosinya, dengan mengikuti setiap jalannya penyiksaan, hingga wafat dikayu salib. Yesus berusaha menggugah kesadarannya untuk menahan emosi dengan berpasrah kepada Bapa dan tetap menanamkan pada dirinya bahwa mereka tidak tau apa yang dikerjakannya.  Akibat pengendalian tersebut didapatlah Kekuatan besar yang terjadi pada manusia dan dirinya sendiri, manusia ditebus dosanya, dan Yesus dimuliakan di Surga. Yesus Tuhan sebenarnya dengan Ke MahaanNya, mampu merubah semuanya dalam sekejab apabila Dia mengikuti emosinya, tetapi Dia mampu mengendalikan, untuk tujuan yang lebih mulia. Pengendalian Emosi, atau management emosi memang benar membentuk kekuatan yang besar, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain yang berniat baik ataupun buruk, hanya waktu yang akan berbicara. Karena Tuhan sendirilah yang melengkapi ciptaanya dengan kekuatan ini.

Apabila kita mengamati kekuatan air, banjir besar misalnya, banjir akan menerjang, merusak, dan menenggelamkan semua yang dilaluinya, bahkan bukit atau rumah betonpun akan hancur disapu oleh kekuatan air yang tidak terkendali. Tetapi apabila kekuatan itu dapat dikuasai, disalurkan dan dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin listrik, keluarlah kekuatan listrik dengan takaran yang sangat kuat.

Saudaraku sama halnya dengan pengendalian emosi, akan membentuk kekuatan yang sangat besar, dan ketika hasilnya nampak kita menjadi terkejut karenanya, karena semua sudah dirancang oleh ahlinya, yaitu Sang Pencipta.   Ada  suatu  cerita  menarik  yang  pernah  saya   alami.

Suatu hari ketika saya dan istri sedang didapur, tiba-tiba terdengar suara benda keras menghantam pintu garasi rumah, seketika itu juga saya berlari menuju depan rumah untuk melihat kejadian apa yang sesungguhnya.

Istri saya jadi emosi, dan marah besar ketika melihat batu kali sebesar genggaman tangan anak kecil tergeletak di bawah pintu tersebut, nampaknya yang membuat bunyi keras tersebut adalah ada seseorang yang melempar batu tersebut kearah pintu garasi, Tetapi tidak seorangpun tampak di jalan depan rumah. Istri saya terus mencari-cari dengan nada marah besar, dengan tujuan mencari jawaban atas peristiwa tersebut. Untunglah saya tidak ikut-ikutan marah, karena saya berpikir marahpun tidak menyelesaikan masalah. Alasan lain  karena ketika bunyi batu tersebut menghantam pintu, tidak terdengar bunyi kendaraan, ditambahkan fakta bahwa setelah dicari-cari tidak ada seorangpun dijalan. Akhirnya saya menyimpulkan pasti ada tetangga yang sakit hati dengan perbuatan saya atau istri tanpa disadari,  saya merenung dan memeriksa sikap, tindakan dan kata yang mungkin menyinggung seseorang dan memacu untuk berbuat demikian. Beberapa jam kemudian saya panggil istri,  saya katakan apakah kita mau tau siapa pelakunya tanpa menuduh dan mencari-cari, dia katakan bagaimana caranya, mungkin sedikit konyol tapi pasti effektif, saya katakan.

Setelah disetujui, langkah saya berikutnya adalah mengambil batu kali tersebut saya bungkus dengan plastik transparan dan saya gantung dengan pita merah  didepan rumah agar semua orang akan lihat bila melaluinya. Saya berpikir bahwa perasaan bersalah pada pelaku yang akan menghakimi pada diri sendiri, entah kapan waktunya saya berpasrah saja, tetapi ternyata responnya tidak terduga.

Dan dugaan saya tidak salah, beberapa hari kemudian ada suami dari tetangga menanyakan, lho ini kog ada batu kali digantung didepan rumah, apa ada maksudnya. Saya katakan, tanpa beban oh iya benar, beberapa hari yang lalu ada orang gila melempar batu ke pintu garasi, saya gantung sebagai peringatan buat saya untuk hati-hati.  Seketika itu juga wajah suami tetangga tersebut menjadi merah, dan segera bergegas pulang, sesaat kemudian saya mendengar dia berkelahi dengan istrinya, dan beberapa hari setelahnya istri tetangga datang kerumah untuk meminta maaf.  Siapapun yang salah tidak dipersoalkan tetapi permintaan maaf tersebut adalah akhir kisah yang mengharukan.

Didalam setiap pikiran manusia, Tuhan sudah menciptakan hal yang baik dan buruk, tergantung bagaimana kita mengisinya melalui jalan rohani kita, kalau yang diisi baik maka yang keluar adalah hasil yang baik, demikian juga sebaliknya. Kalau diisi buruk pasti keluarnya buruk. Sebaiknya kita berusaha untuk melatih, dengan mau mendengar hal yang baik tersebut, didalam pikiran kita.

PENGENDALIAN EMOSI MEMBENTUK KEKUATAN BESAR

Ketika pasukan Inggris memperluas jajahannya di India, munculah seorang tokoh besar yang tersohor hingga saat ini, yaitu Mahatma Gandi, seorang yang memiliki jiwa besar dan kehidupan rohaninya sudah mencapai tingkat tinggi, hidup dengan kesederhanaan dan jauh dari kemewahan, apalagi korupsi,  Mahatma Gandi tergerak untuk melawan kekuatan emosi penjajah, hanya dengan jalan-jalan damai, tanpa kekerasan, pengendalian emosi dari pengikutnya dengan cara memproduksi bahan, pakaian, makanan dan seterusnya untuk dipakai sendiri dan dibagikan kepada sesamanya, hanya untuk penduduk lokal saja bukan dijual kepada penjajah. Hasil akhir telah diketahui menjadi pukulan telak bagi pemerintah Inggris.

Demikian juga Yesus Tuhan, pada saat peristiwa penyaliban, Yesus menghilangkan sama sekali emosinya, dengan mengikuti setiap jalannya penyiksaan, hingga wafat dikayu salib. Yesus berusaha menggugah kesadarannya untuk menahan emosi dengan berpasrah kepada Bapa dan tetap menanamkan pada dirinya bahwa mereka tidak tau apa yang dikerjakannya.  Akibat pengendalian tersebut didapatlah Kekuatan besar yang terjadi pada manusia dan dirinya sendiri, manusia ditebus dosanya, dan Yesus dimuliakan di Surga. Yesus Tuhan sebenarnya dengan Ke MahaanNya, mampu merubah semuanya dalam sekejab apabila Dia mengikuti emosinya, tetapi Dia mampu mengendalikan, untuk tujuan yang lebih mulia. Pengendalian Emosi, atau management emosi memang benar membentuk kekuatan yang besar, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain yang berniat baik ataupun buruk, hanya waktu yang akan berbicara. Karena Tuhan sendirilah yang melengkapi ciptaanya dengan kekuatan ini.

Apabila kita mengamati kekuatan air, banjir besar misalnya, banjir akan menerjang, merusak, dan menenggelamkan semua yang dilaluinya, bahkan bukit atau rumah betonpun akan hancur disapu oleh kekuatan air yang tidak terkendali. Tetapi apabila kekuatan itu dapat dikuasai, disalurkan dan dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin listrik, keluarlah kekuatan listrik dengan takaran yang sangat kuat.

Saudaraku sama halnya dengan pengendalian emosi, akan membentuk kekuatan yang sangat besar, dan ketika hasilnya nampak kita menjadi terkejut karenanya, karena semua sudah dirancang oleh ahlinya, yaitu Sang Pencipta.   Ada  suatu  cerita  menarik  yang  pernah  saya   alami.

Suatu hari ketika saya dan istri sedang didapur, tiba-tiba terdengar suara benda keras menghantam pintu garasi rumah, seketika itu juga saya berlari menuju depan rumah untuk melihat kejadian apa yang sesungguhnya.

Istri saya jadi emosi, dan marah besar ketika melihat batu kali sebesar genggaman tangan anak kecil tergeletak di bawah pintu tersebut, nampaknya yang membuat bunyi keras tersebut adalah ada seseorang yang melempar batu tersebut kearah pintu garasi, Tetapi tidak seorangpun tampak di jalan depan rumah. Istri saya terus mencari-cari dengan nada marah besar, dengan tujuan mencari jawaban atas peristiwa tersebut. Untunglah saya tidak ikut-ikutan marah, karena saya berpikir marahpun tidak menyelesaikan masalah. Alasan lain  karena ketika bunyi batu tersebut menghantam pintu, tidak terdengar bunyi kendaraan, ditambahkan fakta bahwa setelah dicari-cari tidak ada seorangpun dijalan. Akhirnya saya menyimpulkan pasti ada tetangga yang sakit hati dengan perbuatan saya atau istri tanpa disadari,  saya merenung dan memeriksa sikap, tindakan dan kata yang mungkin menyinggung seseorang dan memacu untuk berbuat demikian. Beberapa jam kemudian saya panggil istri,  saya katakan apakah kita mau tau siapa pelakunya tanpa menuduh dan mencari-cari, dia katakan bagaimana caranya, mungkin sedikit konyol tapi pasti effektif, saya katakan.

Setelah disetujui, langkah saya berikutnya adalah mengambil batu kali tersebut saya bungkus dengan plastik transparan dan saya gantung dengan pita merah  didepan rumah agar semua orang akan lihat bila melaluinya. Saya berpikir bahwa perasaan bersalah pada pelaku yang akan menghakimi pada diri sendiri, entah kapan waktunya saya berpasrah saja, tetapi ternyata responnya tidak terduga.

Dan dugaan saya tidak salah, beberapa hari kemudian ada suami dari tetangga menanyakan, lho ini kog ada batu kali digantung didepan rumah, apa ada maksudnya. Saya katakan, tanpa beban oh iya benar, beberapa hari yang lalu ada orang gila melempar batu ke pintu garasi, saya gantung sebagai peringatan buat saya untuk hati-hati.  Seketika itu juga wajah suami tetangga tersebut menjadi merah, dan segera bergegas pulang, sesaat kemudian saya mendengar dia berkelahi dengan istrinya, dan beberapa hari setelahnya istri tetangga datang kerumah untuk meminta maaf.  Siapapun yang salah tidak dipersoalkan tetapi permintaan maaf tersebut adalah akhir kisah yang mengharukan.

Didalam setiap pikiran manusia, Tuhan sudah menciptakan hal yang baik dan buruk, tergantung bagaimana kita mengisinya melalui jalan rohani kita, kalau yang diisi baik maka yang keluar adalah hasil yang baik, demikian juga sebaliknya. Kalau diisi buruk pasti keluarnya buruk. Sebaiknya kita berusaha untuk melatih, dengan mau mendengar hal yang baik tersebut, didalam pikiran kita.

Tetapi tidak sedikit kepekaan pikiran tersebut menjadi hilang sama sekali, pikiran yang disalurkan melalui hati nurani (roh), ditutup oleh berbagai prasangka buruk, tindakan buruk, seperti membunuh, mencuri, memfitnah, berselingkuh, korupsi dan seterusnya, saya tetap yakin sebelum seorang manusia melakukan tindakan tersebut ada peperangan dalam hati, ada kata-kata roh yang mengingatkan, tetapi menjadi gelap tertutup karena Emosi tinggi yang tidak terkendali, dengan mengendalikan emosi tinggi akan didapat jawaban atas tindakan nyata yang dapat kita tidak lanjuti, untuk kebaikan bersama.

Didalam peristiwa yang saya alami, batu tergantung tersebut nampaknya sebagai pemicu, rasa bersalah bagi yang melakukan tindakan tersebut. Tetapi dengan penyesalan, permintaan maaf akan meredakan suasana, adalah berjiwa besar apabila kita telah salah, kilaf untuk mengakui dan meminta maaf dengan sungguh-sugguh untuk tidak melakukan secara berulang.

Yudas Iskariot, dihakimi oleh dirinya sendiri, sehingga rasa bersalah didalam dirinya semakin besar tindakan kotor dengan menjual Yesus Tuhan adalah pemicunya yang menyebabkan dirinya mengakhiri hidupnya, dengan gantung diri.  Apabila Yudas Iskariot, mencoba tenang  dan mengendalikan emosi, kemudian menghadap Yesus Tuhan, walaupun lewat doa, dengan sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dan tidak mengulangi lagi, saya yakin Yesus Tuhan mengampuni Yudas.

Pengendalian Emosi akan membentuk kekuatan perubahan besar baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri.

Tetapi tidak sedikit kepekaan pikiran tersebut menjadi hilang sama sekali, pikiran yang disalurkan melalui hati nurani (roh), ditutup oleh berbagai prasangka buruk, tindakan buruk, seperti membunuh, mencuri, memfitnah, berselingkuh, korupsi dan seterusnya, saya tetap yakin sebelum seorang manusia melakukan tindakan tersebut ada peperangan dalam hati, ada kata-kata roh yang mengingatkan, tetapi menjadi gelap tertutup karena Emosi tinggi yang tidak terkendali, dengan mengendalikan emosi tinggi akan didapat jawaban atas tindakan nyata yang dapat kita tidak lanjuti, untuk kebaikan bersama.

Didalam peristiwa yang saya alami, batu tergantung tersebut nampaknya sebagai pemicu, rasa bersalah bagi yang melakukan tindakan tersebut. Tetapi dengan penyesalan, permintaan maaf akan meredakan suasana, adalah berjiwa besar apabila kita telah salah, kilaf untuk mengakui dan meminta maaf dengan sungguh-sugguh untuk tidak melakukan secara berulang.

Yudas Iskariot, dihakimi oleh dirinya sendiri, sehingga rasa bersalah didalam dirinya semakin besar tindakan kotor dengan menjual Yesus Tuhan adalah pemicunya yang menyebabkan dirinya mengakhiri hidupnya, dengan gantung diri.  Apabila Yudas Iskariot, mencoba tenang  dan mengendalikan emosi, kemudian menghadap Yesus Tuhan, walaupun lewat doa, dengan sungguh-sungguh menyesali perbuatannya dan tidak mengulangi lagi, saya yakin Yesus Tuhan mengampuni Yudas.

Pengendalian Emosi akan membentuk kekuatan perubahan besar baik untuk orang lain maupun dirinya sendiri.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s