Pandangan Terlihat Luas Ketika Duduk Di Pojok Belakang


Ketika saya masih mudah, saya dikenal sebagai anak yang keras kepala, dan suka menentang sehingga tidak salah saudara-saudara kandung memberi julukan saya kepala batu.  Apabila saya pikirkan lebih dalam, mungkin saja saya sangat menjengkelkan, suka mengajak debat, dan selalu menentang ketika diingatkan yang baik-baik. (Maafkan saya, atas semuannya ini saudaraku). Informasi ini disampaikan ketika kami berbicara masa lalu pada pertemuan keluarga beberapa waktu yang lalu, dan saya hanya bisa berhaha-hihi, Karena malu ketika mereka bercanda tentang seorang very dimasa lalu. Untunglah saya sekarang sudah sedikit mengerti bahwa banyak mendengar, banyak mendapatkan.

Saudaraku ketika saya berinteraksi dengan banyak orang,  ternyata apa yang saya lakukan waktu kecil masih sering saya jumpai pada orang dewasa pada umumnya. Mereka lebih suka bicara, memaksakan kehendak dan sangat sulit menerima masukan, mereka sangat suka memposisikan diri sebagai nara sumber, suka mengajak berdebat dan lebih parah lagi suka menang sendiri. Saya jadi berpikir dalam hati mungkin ada baiknya  mereka harus belajar menjadi anak kecil kembali beberapa saat, supaya dapat merefleksikan segala tindak perbuatannya.

Keinginan untuk memaksakan kehendak dan sulit menerima pendapat lain, kemungkinan besar berhubungan  dengan besar kecilnya sudut padang yang dimiliki seseorang, Apabila pengambilan keputusan lebih condong dari sudut pandang titik tengah maka apabila padangan dibuka, yang terlihat hanyalah luasan depan saja, sudut luasan belakang menjadi tidak terlihat. Bagaimana seseorang agar mendapatkan sudut pandang keseluruhan, ternyata kuncinya hanya mundur kebelakang dan memillih tempat yang paling pojok belakang. Apabila sudah terlanjur memilih tempat ditengah. Segera mengadakan penyesuaian tempat sesuai letak tersebut, sebelum menjadi biasa dan sulit untuk mewujudkan keinginan tersebut, walaupun niat didalam diri sendiri ada.

Ketika kita harus memilih mundur, sering kali keputusan itu sangat sulit untuk diterapkan, karena harga diri kita kadang lebih mahal dibandingkan emas dan perak, tetapi keputusan mundur dengan tujuan  maju adalah lebih berharga dari harga diri, setelah dirasakan beberapa saat kemudian.

Keinginan dengan sungguh untuk berubah, adalah hal yang paling utama, dalam perubahan. Karena berubah artinya berani untuk meninggalkan kebiasaan lama, yang mungkin sudah bertahun-tahun ditekuninya, sehingga menjadi zona nyaman, dengan berubah artinya dituntut untuk menyesuaikan kembali, dan itu sangat tidak nyaman, atau dikatakan memerlukan perjuangan keras kearah kebiasaan, waktulah yang berbicara  selanjutnya.

Apabila kita cermati dari setiap peristiwa perubahan, baik revolusi, atau evolusi semua akan memiliki dampak positif atau negatif, tergantung dari cara mana kita dapat mengambil dan menjadikan sesuatu yang baik bagi diri sendiri. Yesus Tuhan sendiri untuk dapat menebus dosa-dosa dunia, yaitu dengan mati di kayu salib adalah sehubungan dengan mengadakan perubahan tersebut.  Sehingga janganlah kita jadi takut untuk berubah, karena berubah adalah bagian dari hidup.

Kebiasaan memaksakan kehendak, dalam arti sebenarnya biasanya diikuti dengan keyakinan bahwa kehendak yang dipaksakan pasti benar, pasti baik, menurut sudut pandang pemilik kehendak. Tetapi belum tentu sesuai dengan si penerima.   Memang saya menyadari benar, bahwa pemaksaan kehendak kadang harus dilaksanakan terutama didalam dunia usaha, yang dimaksud pemaksaan disini bukanya memaksakan dalam arti sesungguhnya, apabila kita telaah lebih dalam  tetapi lebih kearah pembelajaran, dan pembentukan kedisiplinan untuk membentuk pola kerja yang sesuai dengan tujuan perusahaan. Dalam hal demikian, hendaklah rencana tersebut dibicarakan secara transparan diawal sehingga maksud dan tujuan sebenarnya dapat diketahui didepan, tanpa meninggalkan noda pikiran buruk sebelum dan sesudahnya.

Ketika kita sudah menempati posisi paling pojok belakang, pandangan akan tampak terhampar luas, aspek positif dan negatif semuanya kita dapat lihat, setelah itu hendaklan diendapkan dulu, apabila sudah jernih maka bolehlah kita dapat mengambil langkah perubahan untuk menuju hidup yang lebih baik.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s