Ketenangan Membuka Jalan Keluar


Ketika saya mendapatkan persetujuan untuk pensiun dini dari Bank swasta tempat saya bekerja, maka yang menjadi tujuan pertama adalah mencari pekerjaan di dunia perbankan lainnya karena memang pengalaman saya hanya ada di dunia perbankan, setelah beberapa saat saya bekerja keras akhirnya saya mendapatkan tujuan tersebut,  walaupun di akhir cerita perjalan hidup, saya harus meninggalkan dunia perbankan, untuk menekuni bidang lain, setelah berputar-putar beberapa tahun. Pada saat itu, saya hanya memiliki kecemasan, takut dan tidak tenang yang terpikir bahwa saya harus segera mendapatkan pekerjaan, karena saya memiliki keluarga yang setiap hari harus makan 3 kali. Kecemasan bermuara dengan mengikuti apa yang ada didalam pikiran ini, sehingga suara hati semakin tidak terdengar. Hasilnya setelah sekian tahun berputar-putar ternyata Kehendak Tuhan adalah dengan pekerjaan saya sekarang ini, bertani di desa kecil yang tenang.  Memang apabila dipikirkan tidaklah sesuai, seorang banker’s berubah menjadi petani.  Tidak terlintas sedikitpun selama ini ketika saya bekerja di dunia perbankan. Tapi inilah kenyataan perjalanan hidup yang sudah Tuhan tunjukkan.   Damai sejahtera ada disini, dan itulah yang saya cari dalam perjalanan hidup.

Saudaraku kecemasan dalam diri sendiri terjadi karena kita tidak memiliki cadangan, atau keyakinan, atau alasan agar tidak cemas. Kecemasan pasti menimbulkan ketidak tenangan dan karena tidak tenang maka menjadi tidak fokus pada satu hal, bahkan kursi sebesar kambingpun  apabila diletakkan di tengah jalan ruang tamu, akan dilanggar seolah tak tampak dalam pandangan mata fisik, seorang pencemas.

Maka tidak ada salahnya kita mencoba untuk bersikap tenang, endapkan dulu kecemasan, pikiran-pikiran buruk, kotoran-kotoran yang menempel, kemudian baru kita mengambil langkah effisien untuk mencapai maksud tujuan.  Maksud tujuan adalah pedoman arah yang hendak kita tuju, buka angan-angan atau bayangan yang menghanyutkan, pembatasan dalam diri sendiri harus jelas diletakkan didepan. Kadang pernah terlintas dalam pikiran bahwa umur saya sudah kepala empat, jauh tertinggal oleh adik-adik yang lebih muda, maka langkah saya untuk menuju tujuan sudah harus langsung ke sasaran, seharusnya  pemikiran itu yang dapat membedakan orang muda dan yang lebih tua, karena energi sudah jauh berkurang.

Ketika saya mengalami kecemasan, ketakutan akan kemampuan bertahan untuk   hidup, saya diingatkan oleh sahabat bahwa ada tertulis di Mazmur, ketika engkau maju berperang sendiri, maka Aku akan melihat dan mengawasi engkau, ketika engkau luka dan memar Aku akan kirimkan orang untuk merawat luka-lukamu, tetapi ketika engkau menyerah dan berpasrah kepadaKu, maka Aku akan maju berperang untuk engkau.

Permasalahan disini adalah sejauh mana kepercayaan kita untuk berpasrah kepadaNya, memang benar ketika kita melihat seorang sahabat berpasrah total kepadaNya secara kasat mata, tanpa kita sadari terlontar kata-kata dari mulut kita…gila bener dia…berani mengambil jalan itu, tetapi apabila kita telaah lebih dalam, ternyata kepasrahan yang diyakini sahabat kita adalah benar, kepasrahan yang saya  maksud adalah bukanya kita duduk manis kemudian kita berpasrah, maka rejeki akan datang seperti sekarung emas jatuh dari langit untuk kita. Tetapi lebih kearah bekerjalah dengan bimbingan hatimu, dengan sekeras-kerasnya, dengan sebaik-baiknya karena itu kewajibanmu, selanjutnya berpasrahlah kepadanya, karena Dia yang menilai hasil kerjamu, tidaklah bisa sedikitpun kita menuntut dan mengatur  kepadaNya. Karena sudah baku hukumnya, seorang pelayan tidak bisa mengatur kebijakan seorang Raja.

Saudaraku ketika saya mulai usaha bertani bunga potong bersama teman-teman, bukanlah hasil yang saya dapat, tetapi modal semuanya habis, kejadian ini berulang 2 kali. Pengorbanan berupa waktu, tenaga dan  modal semuanya habis tidak kembali sepeserpun, padahal modal tersebut adalah uang jamsostek dan seluruh tabungan saya ketika masih bekerja, bahkan kadang-kadang apabila saya berpikir sendiri, timbul pikiran buruk; untuk apa kamu bersusah-susah toh hasilnya habis juga, atau malah yang lebih parah  timbul ucapan dalam keluarga yang menyalahkan Tuhan, sudahlah….kamu memang tidak cocok diusaha ini, kamu dari lahir tidak sesuai dengan bidang ini, (tindakan memvonis hukuman pada diri sendiri, dan meletakkan diri seorang pelayan diatas  Raja)

Beberapa saat setelah saya menenangkan diri, untuk mengetahui maksud terkandung, ternyata perulangan-perulangan kegagalan usaha adalah bentuk kecintaan Tuhan pada manusia, supaya kita belajar dari kesalahan masa lalu dan bangkit untuk keluar dari masalah tersebut. Bukan menghindar dan melarikan diri dari masalah tersebut.

Perulangan kegagalan merupakan lembar materi belajar untuk membenahi hal salah yang sudah kita kerjakan, untuk kembali dikerjakan menjadi benar.

Setelah pikiran tenang didapatlah pikiran benar, bahwa untuk memulai usaha harus dimulai dari tahap-tahap yang sudah harus direncanakan dengan matang, perencanaan tidak matang dan dipaksakan untuk dikerjakan sudah jelas kegagalan yang didapat.

Ada pengalaman yang dapat saya bagi yang mungkin berguna bagi saudara ketika menyusun atau memulai suatu usaha yaitu, dimulai dari tahap pengumpulan informasi. Didalam tahap ini, baik informasi yang mendukung rencana ataupun yang menghambat rencana semuanya dikumpulkan sebanyak-banyaknya, untuk selanjutnya diresume  dan disimpan menjadi suatu bank infomasi, yang akan digunakan selanjutnya.

Hasil resume, dapat dibaca bahwa usaha yang direncanakan masih memiliki prospek untuk dijalankan atau tidak, dengan tingkat kesulitan A, B atau C.  Ataupun kemungkinan muncul  ide bentuk usaha lain, karena usaha yang direncanakan memiliki resiko kegagalan tinggi karena ketidaksiapan kita. Didalam pengumpulan informasipun sudah harus dapat disimpulkan secara kasar berapa besar margin yang didapat sehingga untuk mencapai Break Even Point, dapat diperkirakan berapa lama.  Setelah diyakini untuk diteruskan maka tahap berikutnya adalah pembuatan blue print atau dapat disebut buku besar perencanaan  yang berisi perencanaan dari A s.d Z,  dan perencanaan tersebut didukung dengan kerangka – kerangka pendukung secara detail. Perencanaan dan kerangka dapat dimulai dari :

1.       Perencanaan awal yang disebut pra operasional sebelum memulai usaha. Didalam pra operasional tersusun kerangka yang harus dipenuhi, baik didapat melalui pengumpulan data di lapangan  atau bentuk pembelajaran dan pembanding untuk menemukan titik kelemahan, dan keunggulan usaha yang sudah direncanakan tersebut.

 

a.  Ijin dan perijinan

–  Pembentukan badan usaha, PT, CV

–  Perjanjian   kerjasama   apabila   lebih   dari  1

Pemilik  modal   dilakukan    secara      notariil,

dengan   pembagia   kerja    yang    jelas    dan

terperinci,  baik  wewenang  s.d     pembagian

keuntungan.

–  SIUP, SITU, TDP, HO dst.

–  System pelaporan pajak (PKP)

–  Legalitas nama atau merk produksi, dst

 

b.  Sarana dan prasarana pendukung.

– Lokasi usaha

– Instalasi  listrik,  telp,  air,   sarana   pengolahan

limbah

– Bangunan gudang, kantor, & tempat produksi

– Alat tulis kantor, meubel, almari,  computer dst

 

– Program computer sebagai pendukung.

– Transportasi  (truck, mobil pick up dst)

 

c.  Kebutuhan akan modal

– Besarnya   modal   yang   diperlukan,   dihitung

dari  pra  operasional    hingga     mendapatkan

keuntungan.

Sehingga      sangat        perlu        diproyeksikan

kebutuhan modal hingga BEP.

 

d.  Mesin- mesin pendukung

– Apabila  usaha  memerlukan mesin pendukung,

Sangat  perlu   dilakukan   uji   coba   mesin,  di

tempat       vendor,       penetapan         garansi,

maintenant  dan  seting  mesin  di lokasi usaha

Besarnya   kebutuhan   listrik,   dan     kesiapan

operator. dst

 

e.  Sumber daya manusia.

–  Trainning       operator         mesin,         training

pengetahuan       tentang         produk,       atau

penyusunan  tentang  kesiapan  dari     masing

masing bagian.

–   Penyusunan job description masing-masing

–  Penyusunan  ceking  list  sebagai     monitoring

pekerjaan.

 

f.  Pembentukan Networking.

–  Penyusunan  networking  berkaitan    dengan

bagian  bahan  baku, serta pemasaran setelah

barang selesai diproduksi.

 

 

 

–  Pembentukan  hubungan     dengan         pihak

outsourcing,    apabila     dibutuhkan        untuk

petugas keamanan, parkir, atau lainnya.

 

g.  Lain-lain

 

2.      Perencanaan kedua, adalah perencanaan setelah pra operasional, yang dimaksud adalah kesiapan dalam menjalankan usaha setelah operasional dimulai.

a.  Menyusun SOP, Standard Operasional

Pelaksanaan

b.  Menyusun buku peraturan perusahaan

c.  Merangkai   system      managerial        secara

piramida.

– Dengan   pendelegasian  wewenang     yang

jelas,    dan pembentukan  pola  kerja   yang

terukur sehingga tiap – tiap karyawan dapat

diukur produktifitasnya.

d.  Menyusun  kontigensi  plan  atau  rencana

cadangan        apabila        terjadi      keadaan

darurat,    baik     pada     sarana    prasarana

atau program atau  SDM.

 

3.      Monitoring dan controlling

–   Melakukan  review  akan ketaatan   menjalankan

SOP

–   Melakukan review effisiensi dan produktifitas

–   Melakukan    pertemuan    secara   berkala,  pada

Masing  –  masing     penanggung    jawab,     guna

mendengar keluhan,  masalah  dan  memberikan

jalan  keluar  yang  tepat.

–  Melakukan review pendapatan dan penjualan.

–  Melakukan review arus kas dan pembukuan, dst.

Saudaraku ketika saya pertama kali mengikuti pendakian gunung Welirang bersama group pencinta alam, ketika itu saya  masih berumur belasan tahun, untuk mencapai puncak selalu mengikuti jalan setapak yang meliuk-liuk hingga 8 jam  waktu diperlukan dari kaki gunung ke puncak. Tetapi setelah sekian kali saya melakukan pendakian ke gunung yang sama,  saya menjadi paham jalan-jalan yang singkat hingga tidak memerlukan waktu 8 jam lagi untuk sampai ke puncak.  Pemahaman saya ternyata karena saya sudah mengenal pada tempat dan lokasi yang sama, sehingga bisa membuat jalan trobosan lebih cepat tetapi aman.

Ketika kita tenang dalam keheningan, dan melibatkan roh dalam diri kita  maka sebenarnya Roh dalam diri kita akan mengenal  setiap peristiwa dengan bimbingan Roh Kudus .  Akan sama halnya dengan bimbingan untuk menemukan jalan pintas pencapaian tujuan  hidup. Dunia Roh tidak mengenal ruang, waktu dan tempat, waktu yang lampau dan yang akan datang tidak ada batasnya, demikian juga tempat dimanapun berada, Roh kita apabila bersatu dengan Roh kudus, maka akan ada kekuatan yang besar yang mengendalikan pikiran diri sendiri.  Permasalahannya disini kita sangat jarang melibatkan roh dalam diri kita, untuk membimbing menemukan jalan keluar yang baik, yang sering terjadi kita selalu menggunakan akal pikiran kita untuk memecahkan segala permasalahan hidup. Dalam hal ini  adalah wajar. Tetapi menjadi tidak wajar apabila terjadi over keyakinan bahwa dengan akal kita sajalah semua dapat diselesaikan.  Kita sudah sama-sama membahas masalah tersebut dalam bab kesadaran bahwa pikiran manusia hanya sebatas genggaman tangan anak kecil, dan itulah yang menyebabkan keterbatasan dalam pemecahan masalah.

Ketenangan menyebabkan terjadi sinkornisasi alunan frequensi pikiran dan roh sehingga menciptakan jalan keluar yang sungguh sangat baik.

This entry was posted in Motivasi and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s