Emosi Membuat Kita Sakit dan Tua


Didalam artikel kesehatan yang pernah saya baca, Health and Emotional Impact, dijelaskan bahwa apabila kita emosi metabolisme kita meningkat secara cepat dan mendadak berlipat-lipat jumlahnya, akibat kerja jantung meningkat dan pembuluh darah menjadi terbebani karena tekanan yang mendadak tersebut, tak jarang pada saat seseorang emosi menjadi sesak nafas hingga akhirnya pingsan. keadaan ini hampir sama dengan tanda-tanda sebelum terserang stroke, penyakit yang tahun-tahun belakangan tercatat sebagai penyebab kematian paling besar setelah serangan jantung. Keadaan emosi seperti inilah disebut emosi tinggi atau marah yang tidak sehat.

Seorang manusia, didalam perjalanan hidupnya sangat sering mengalami peristiwa emosi tinggi padahal apabila kita perhatikan lebih dalam peristiwa emosi tinggi  atau banyak orang mengenal dengan istilah marah.  Benar atau salah ujung-ujungnya tidak menguntungkan, marah akan membuat seseorang sakit hati, tersinggung, benci, dendam atau perasaan lain yang tidak menyenangkan.

Sedangkan bagi pelaku, sudah dijelaskan diatas bahwa akan berdampak buruk bagi kesehatan diri sendiri. Sehingga bagi subyek ataupun obyek semuanya tidak ada yang diuntungkan.

Mengapa orang menjadi cepat marah, atau emosi tinggi, biasanya karena seseorang tersebut selalu menuntut akan keinginannya terpenuhi, atau seseorang tersebut sudah penuh akan kesan buruk dalam hidupnya. Sehingga lebih sensitif, menganggap semua perkara menjadi berat, sehingga berkeinginan untuk mencari pelampiasan, atau bahkan bisa disebabkan karena seseorang tidak memiliki panjang pikiran, ataupun ada kesan membuat dirinya seperti itu supaya di segani, di takuti atau dijauhi. Alasan lain karena gengsi atau harga diri, maunya menang sendiri, dan menganggap dirinya lebih dari orang lain,  akan semakin marah apabila lawan bicara kita, juga memiliki hal buruk yang sama, sehingga berujunglah di pengadilan, atau kehilangan nyawa.

Sebenarnya di dalam perjalanan hidup seseorang, dari hari lepas hari bila kita menyadari sepenuhnya ibarat kita belajar dari kisah hidup diri sendiri, yang dimulai saat membuka mata dan diakhiri dengan saat kita menutup mata untuk istirahat atau tidur, dan apabila kita belajar dengan sungguh-sungguh semakin hari semakin berisilah ilmu kehidupan kita, memang ada seseorang yang lebih berilmu dibandingkan dengan usianya, atau bahkan hanya memiliki separuh dari ilmu yang ada dibanding umurnya. Yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah tingkat kesadaran seseorang bahwa setiap peristiwa adalah materi untuk pembelajaran diri, sehingga semakin berusia, semakin berilmu dan semakin mampu mengendalikan emosi tinggi atau amarah.  Didalam kisah pewayangan,  diceritakan keluarga pendawa memiliki seorang yudistira yang berilmu tinggi dan bijaksana adalah contoh seseorang yang digambarkan dapat mengendalikan emosi tingginya, dikisahkan pula bahkan istrinya yang dicintainya apabila diminta dari dirinyapun akan diberikan dengan hati yang besar apabila untuk kebahagiaan orang tersebut.

Banyak orang menanggapi cerita tersebut dengan kesan biasa saja, tetapi bagi seorang Kristen,  Yesus Tuhan adalah  figur yang paling tepat mengambarkan pengendalian emosi terebut.

Memang benar didalam Injil dituliskan, Yesus Tuhan pernah marah besar ketika bait Allah, rumah Bapanya digunakan sebagai pasar burung. Tetapi menurut saya, yesus tidak marah didalam hatinya, yesus menyadari dan mengetahui bahwa dirinya memang harus marah, untuk menunjukkan bahwa hal yang mereka lakukan adalah salah, dan menurut saya itu adalah marah yang sehat.

Marah yang sehat, menurut saya apabila disadari terlebih dahulu bahwa perlu untuk bertindak  marah, dan akibatnya sudah dipikirikan dan dibatasi dalam skala tertentu, dan tidak merembet atau membesar ke hal-hal lainnya, yang tidak terkontrol, kondisi seperti ini tidak memeras kerja otak ataupun organ-organ lainnya.

Ada suatu ide yang menarik ketika saya berdiskusi tentang pengendalian emosi atau marah khususnya didalam rumah tangga, antara suami atau istri , sahabat saya seorang konsultan rumah tangga melontarkan ide buatlah marah yang sehat, apabila seringkali terjadi permasalahan dalam rumah tangga  Yaitu menjadwal marah suami atau istri, dan membuat komitmet harus mengikuti jadwal tersebut. Hari Senin, Rabo dan Jumat apabila terjadi perselisihan, yang boleh marah adalah suami, istri hanya mendengarkan, dan diam duduk tenang, demikian juga selasa, kamis, sabtu adalah sebaliknya. Diluar itu apabila ingin marah supaya ditunda dulu. Saudaraku ide ini nampaknya konyol, tapi ternyata setelah diterapkan benar-benar kepada para cliennya, ternyata memang sangat effektif, walaupun sedikit konyol.

Ketika saya pelajari ternyata hanya mendengarkan adalah peredam emosi tinggi seseorang,  mengadu pendapat, mencari alibi, atau hal lainya akan lebih memancing seseorang untuk menunjukkan taringnya, bahwa saya lebih tahu dari kamu, dan kamu adalah salah dan saya benar.

Membuat kata-kata menyakitkan sangatlah mudah dibandingkan membuat kata-kata menyenangkan, memuji dengan tulus, belajar mendengarkan walaupun membosankan, menghargai atau membuat seseorang lebih manusia adalah hal yang mulia menurut saya.

Belajarlah dari ilmu air, untuk mengendalikan emosi tinggi dan amarah, Tuhan menciptakan air untuk  membuat keseimbangan suhu udara,  apabila udara panas akan turun hujan untuk menurunkan suhu lebih rendah,  air juga digunakan sebagai pelarut, apabila kita akan membuat sirup, teh atau kopi, dengan air bahan-bahan itu  akan disatukan menjadi satu larutan yang terlarut  sempurna

Mengalir saja seperti air, dia akan mencari dan menempati ruang dan tempat sebagaimana yang akan dia tempati, dia mencari tempat yang lebih rendah untuk bersatu membentuk kekuatan besar yaitu lautan.  Air tidak menjadi rakus dan tamak apabila tempat yang diisi sudah cukup,  air akan terus mengalir kembali turun menempati tempat yang memang membutuhkannya.

Penyebab emosi tinggi adalah menentang arus air, dan karena menentang maka menjadi sangat melelahkan, menguras segala tenaga dan segala yang baik didalam tubuh kita sehingga saat kita lelah virus  sakit hati, benci, dendam, akan masuk, maka sudah jelas dapat kita lihat, kita menjadi sakit dan semakin tua.

Saat Emosi tinggi kita jadi lupa bahwa banyak yang lebih berharga disekitar kita melebihi harga diri yang kita pertahankan dengan sekuat tenaga, hingga saatnya kita akan menyesal dan memang benar-benar menyesal karena kejadian tersebut tidak dapat diulang.

Ada sebuah cerita yang sangat menarik, yang perlu kita simak, di dataran china, sekitar 50 tahun yang lalu, saat masyarakat china masih  tertekan oleh kebijakan pemerintah sosialis moderat, hiduplah seorang janda dengan satu anak perempuan yang beusia 10 tahun mereka biasa memangil Lie Tjen , mereka hidup sangat miskin, tidur dipondok terbuat dari bambo dengan atap jerami, serta ada perapian kecil untuk menghangatkan badan apabila musim dingin tiba. Sedangkan untuk menyambung hidup sehari-hari mereka membantu memecah batu untuk dibuat pondasi jalan itupun  hanya  untuk sekedar mendapat makan, kadang-kadang mereka bekerja dengan cara membantu untuk mencuci pakaian kotor tetangga yang membutuhkan jasanya, dan apabila tenaga cucian belum didapat mereka hidup mengemis dari rumah ke rumah di kota tetangga untuk menghindari malu. Uang hasil jasa mencuci atau mengemis mereka kumpulkan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada suatu hari ketika musim dingin melanda negeri tirai bambo tersebut, seperti biasanya tugas Lie Tjen mencari kayu bakar untuk menjaga agar tungku perapian tetap menyala, tetapi janda tersebut tidak mendapati anak perempuannya, hingga api menjadi kecil. Ibu janda tersebut, seketika itu juga menjadi emosi tinggi, dia marah karena berpikir bahwa anaknya hanya main-main saja bersama teman-temanya, tidak mengetahui kalau ibunya sangat lelah seharian mencari uang, biarlah sekali-kali Lie Tjen saya hukum, supaya merasakan dinginnya udara diluar ; kata perempuan itu didalam hati, Ibu janda tersebut kemudian mengkunci rapat-rapat pintu rumahnya. Dua jam kemudian pintu rumah ibu janda tersebut diketok oleh anak perempuan Lie Tjen, tetapi karena didalam pikiran ibu janda tersebut masih tersimpan kemarahan, dan pikiran untuk menghukum, Ibu Lie Tjen tetaplah bersikukuh untuk tidak membuka pintu tersebut.     Melihat pintu terkunci, Lie Tjen berinisiatif berteriak memanggil nama ibunya, berkali-kali sambil mengetok pintu rumah sederhana tersebut, tetapi, tetap kesunyian yang didapat, dan  karena tidak ada respon dari dalam rumah, Lie Tjen berniat menunggu didepan pintu sambil menahan dingin. Mungkin ibunya sedang keluar mencari makan dan lupa sehingga mengunci pintunya rapat-rapat, pikir Lie Tjen didalam hatinya.

Detik terus berjalan, waktu terus berputar dan 4 jam telah berlalu, ibunya membuka pintu rumah dan berniat melanjutkan amarahnya kepada anaknya, tetapi apa yang terjadi, Lie Tjen kecil  sudah tidak bernyawa lagi, tubuhnya kaku, dengan posisi duduk menunggu ibunya pulang, karena ternyata kondisi cuaca sangat dingin diluar rumah yang tidak disadari oleh ibunya. Seketika itu juga tangis Ibu janda tersebut meledak, dia tidak menyangka karena amarahnya membuat kehilangan anaknya,  dan yang membuat Ibu janda tersebut lebih menyesali perbuatannya ternyata di tangan mungil Lie Tjen, terdapat bingkisan kecil dengan tulisan tangannya, selamat ulang tahun Ibu, saya sangat menyayangi ibu.

Saudara nampakya Lie Tjen kecil, berinisiatif untuk membeli bingkisan sederhana hasil dari uang tabungan yang dikumpulkan beberapa bulan untuk membuat hati Ibunya bahagia pada saat hari ulang tahunnya, tetapi keadaan berbicara lain.  Emosi tinggi melumpuhkan pikiran sehat, dan apabila pikiran sehat sudah lumpuh, maka pikiran yang tidak sehat akan mengisi kekosongan tersebut, penyesalan tidak ada gunanya lagi, karena waktu tidak bisa diulang.  Senantiasa menyadari dan berusaha berpikir positif kadang mengendalian emosi tinggi,  ada baiknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat, saudaraku.

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>  

EMOSI MEMBUAT KITA SAKIT DAN TUA

Didalam artikel kesehatan yang pernah saya baca, Health and Emotional Impact, dijelaskan bahwa apabila kita emosi metabolisme kita meningkat secara cepat dan mendadak berlipat-lipat jumlahnya, akibat kerja jantung meningkat dan pembuluh darah menjadi terbebani karena tekanan yang mendadak tersebut, tak jarang pada saat seseorang emosi menjadi sesak nafas hingga akhirnya pingsan. keadaan ini hampir sama dengan tanda-tanda sebelum terserang stroke, penyakit yang tahun-tahun belakangan tercatat sebagai penyebab kematian paling besar setelah serangan jantung. Keadaan emosi seperti inilah disebut emosi tinggi atau marah yang tidak sehat.

Seorang manusia, didalam perjalanan hidupnya sangat sering mengalami peristiwa emosi tinggi padahal apabila kita perhatikan lebih dalam peristiwa emosi tinggi  atau banyak orang mengenal dengan istilah marah.  Benar atau salah ujung-ujungnya tidak menguntungkan, marah akan membuat seseorang sakit hati, tersinggung, benci, dendam atau perasaan lain yang tidak menyenangkan.

Sedangkan bagi pelaku, sudah dijelaskan diatas bahwa akan berdampak buruk bagi kesehatan diri sendiri. Sehingga bagi subyek ataupun obyek semuanya tidak ada yang diuntungkan.

Mengapa orang menjadi cepat marah, atau emosi tinggi, biasanya karena seseorang tersebut selalu menuntut akan keinginannya terpenuhi, atau seseorang tersebut sudah penuh akan kesan buruk dalam hidupnya. Sehingga lebih sensitif, menganggap semua perkara menjadi berat, sehingga berkeinginan untuk mencari pelampiasan, atau bahkan bisa disebabkan karena seseorang tidak memiliki panjang pikiran, ataupun ada kesan membuat dirinya seperti itu supaya di segani, di takuti atau dijauhi. Alasan lain karena gengsi atau harga diri, maunya menang sendiri, dan menganggap dirinya lebih dari orang lain,  akan semakin marah apabila lawan bicara kita, juga memiliki hal buruk yang sama, sehingga berujunglah di pengadilan, atau kehilangan nyawa.

Sebenarnya di dalam perjalanan hidup seseorang, dari hari lepas hari bila kita menyadari sepenuhnya ibarat kita belajar dari kisah hidup diri sendiri, yang dimulai saat membuka mata dan diakhiri dengan saat kita menutup mata untuk istirahat atau tidur, dan apabila kita belajar dengan sungguh-sungguh semakin hari semakin berisilah ilmu kehidupan kita, memang ada seseorang yang lebih berilmu dibandingkan dengan usianya, atau bahkan hanya memiliki separuh dari ilmu yang ada dibanding umurnya. Yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah tingkat kesadaran seseorang bahwa setiap peristiwa adalah materi untuk pembelajaran diri, sehingga semakin berusia, semakin berilmu dan semakin mampu mengendalikan emosi tinggi atau amarah.  Didalam kisah pewayangan,  diceritakan keluarga pendawa memiliki seorang yudistira yang berilmu tinggi dan bijaksana adalah contoh seseorang yang digambarkan dapat mengendalikan emosi tingginya, dikisahkan pula bahkan istrinya yang dicintainya apabila diminta dari dirinyapun akan diberikan dengan hati yang besar apabila untuk kebahagiaan orang tersebut.

Banyak orang menanggapi cerita tersebut dengan kesan biasa saja, tetapi bagi seorang Kristen,  Yesus Tuhan adalah  figur yang paling tepat mengambarkan pengendalian emosi terebut.

Memang benar didalam Injil dituliskan, Yesus Tuhan pernah marah besar ketika bait Allah, rumah Bapanya digunakan sebagai pasar burung. Tetapi menurut saya, yesus tidak marah didalam hatinya, yesus menyadari dan mengetahui bahwa dirinya memang harus marah, untuk menunjukkan bahwa hal yang mereka lakukan adalah salah, dan menurut saya itu adalah marah yang sehat.

Marah yang sehat, menurut saya apabila disadari terlebih dahulu bahwa perlu untuk bertindak  marah, dan akibatnya sudah dipikirikan dan dibatasi dalam skala tertentu, dan tidak merembet atau membesar ke hal-hal lainnya, yang tidak terkontrol, kondisi seperti ini tidak memeras kerja otak ataupun organ-organ lainnya.

Ada suatu ide yang menarik ketika saya berdiskusi tentang pengendalian emosi atau marah khususnya didalam rumah tangga, antara suami atau istri , sahabat saya seorang konsultan rumah tangga melontarkan ide buatlah marah yang sehat, apabila seringkali terjadi permasalahan dalam rumah tangga  Yaitu menjadwal marah suami atau istri, dan membuat komitmet harus mengikuti jadwal tersebut. Hari Senin, Rabo dan Jumat apabila terjadi perselisihan, yang boleh marah adalah suami, istri hanya mendengarkan, dan diam duduk tenang, demikian juga selasa, kamis, sabtu adalah sebaliknya. Diluar itu apabila ingin marah supaya ditunda dulu. Saudaraku ide ini nampaknya konyol, tapi ternyata setelah diterapkan benar-benar kepada para cliennya, ternyata memang sangat effektif, walaupun sedikit konyol.

Ketika saya pelajari ternyata hanya mendengarkan adalah peredam emosi tinggi seseorang,  mengadu pendapat, mencari alibi, atau hal lainya akan lebih memancing seseorang untuk menunjukkan taringnya, bahwa saya lebih tahu dari kamu, dan kamu adalah salah dan saya benar.

Membuat kata-kata menyakitkan sangatlah mudah dibandingkan membuat kata-kata menyenangkan, memuji dengan tulus, belajar mendengarkan walaupun membosankan, menghargai atau membuat seseorang lebih manusia adalah hal yang mulia menurut saya.

Belajarlah dari ilmu air, untuk mengendalikan emosi tinggi dan amarah, Tuhan menciptakan air untuk  membuat keseimbangan suhu udara,  apabila udara panas akan turun hujan untuk menurunkan suhu lebih rendah,  air juga digunakan sebagai pelarut, apabila kita akan membuat sirup, teh atau kopi, dengan air bahan-bahan itu  akan disatukan menjadi satu larutan yang terlarut  sempurna

Mengalir saja seperti air, dia akan mencari dan menempati ruang dan tempat sebagaimana yang akan dia tempati, dia mencari tempat yang lebih rendah untuk bersatu membentuk kekuatan besar yaitu lautan.  Air tidak menjadi rakus dan tamak apabila tempat yang diisi sudah cukup,  air akan terus mengalir kembali turun menempati tempat yang memang membutuhkannya.

Penyebab emosi tinggi adalah menentang arus air, dan karena menentang maka menjadi sangat melelahkan, menguras segala tenaga dan segala yang baik didalam tubuh kita sehingga saat kita lelah virus  sakit hati, benci, dendam, akan masuk, maka sudah jelas dapat kita lihat, kita menjadi sakit dan semakin tua.

Saat Emosi tinggi kita jadi lupa bahwa banyak yang lebih berharga disekitar kita melebihi harga diri yang kita pertahankan dengan sekuat tenaga, hingga saatnya kita akan menyesal dan memang benar-benar menyesal karena kejadian tersebut tidak dapat diulang.

Ada sebuah cerita yang sangat menarik, yang perlu kita simak, di dataran china, sekitar 50 tahun yang lalu, saat masyarakat china masih  tertekan oleh kebijakan pemerintah sosialis moderat, hiduplah seorang janda dengan satu anak perempuan yang beusia 10 tahun mereka biasa memangil Lie Tjen , mereka hidup sangat miskin, tidur dipondok terbuat dari bambo dengan atap jerami, serta ada perapian kecil untuk menghangatkan badan apabila musim dingin tiba. Sedangkan untuk menyambung hidup sehari-hari mereka membantu memecah batu untuk dibuat pondasi jalan itupun  hanya  untuk sekedar mendapat makan, kadang-kadang mereka bekerja dengan cara membantu untuk mencuci pakaian kotor tetangga yang membutuhkan jasanya, dan apabila tenaga cucian belum didapat mereka hidup mengemis dari rumah ke rumah di kota tetangga untuk menghindari malu. Uang hasil jasa mencuci atau mengemis mereka kumpulkan untuk kebutuhan sehari-hari. Pada suatu hari ketika musim dingin melanda negeri tirai bambo tersebut, seperti biasanya tugas Lie Tjen mencari kayu bakar untuk menjaga agar tungku perapian tetap menyala, tetapi janda tersebut tidak mendapati anak perempuannya, hingga api menjadi kecil. Ibu janda tersebut, seketika itu juga menjadi emosi tinggi, dia marah karena berpikir bahwa anaknya hanya main-main saja bersama teman-temanya, tidak mengetahui kalau ibunya sangat lelah seharian mencari uang, biarlah sekali-kali Lie Tjen saya hukum, supaya merasakan dinginnya udara diluar ; kata perempuan itu didalam hati, Ibu janda tersebut kemudian mengkunci rapat-rapat pintu rumahnya. Dua jam kemudian pintu rumah ibu janda tersebut diketok oleh anak perempuan Lie Tjen, tetapi karena didalam pikiran ibu janda tersebut masih tersimpan kemarahan, dan pikiran untuk menghukum, Ibu Lie Tjen tetaplah bersikukuh untuk tidak membuka pintu tersebut.     Melihat pintu terkunci, Lie Tjen berinisiatif berteriak memanggil nama ibunya, berkali-kali sambil mengetok pintu rumah sederhana tersebut, tetapi, tetap kesunyian yang didapat, dan  karena tidak ada respon dari dalam rumah, Lie Tjen berniat menunggu didepan pintu sambil menahan dingin. Mungkin ibunya sedang keluar mencari makan dan lupa sehingga mengunci pintunya rapat-rapat, pikir Lie Tjen didalam hatinya.

Detik terus berjalan, waktu terus berputar dan 4 jam telah berlalu, ibunya membuka pintu rumah dan berniat melanjutkan amarahnya kepada anaknya, tetapi apa yang terjadi, Lie Tjen kecil  sudah tidak bernyawa lagi, tubuhnya kaku, dengan posisi duduk menunggu ibunya pulang, karena ternyata kondisi cuaca sangat dingin diluar rumah yang tidak disadari oleh ibunya. Seketika itu juga tangis Ibu janda tersebut meledak, dia tidak menyangka karena amarahnya membuat kehilangan anaknya,  dan yang membuat Ibu janda tersebut lebih menyesali perbuatannya ternyata di tangan mungil Lie Tjen, terdapat bingkisan kecil dengan tulisan tangannya, selamat ulang tahun Ibu, saya sangat menyayangi ibu.

Saudara nampakya Lie Tjen kecil, berinisiatif untuk membeli bingkisan sederhana hasil dari uang tabungan yang dikumpulkan beberapa bulan untuk membuat hati Ibunya bahagia pada saat hari ulang tahunnya, tetapi keadaan berbicara lain.  Emosi tinggi melumpuhkan pikiran sehat, dan apabila pikiran sehat sudah lumpuh, maka pikiran yang tidak sehat akan mengisi kekosongan tersebut, penyesalan tidak ada gunanya lagi, karena waktu tidak bisa diulang.  Senantiasa menyadari dan berusaha berpikir positif kadang mengendalian emosi tinggi,  ada baiknya kita menyadari saat ini sebelum terlambat, saudaraku.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s