Berdamai dengan Diri Sendiri Awal Dari Kejernihan


Ketika masih usia sekolah dasar, saya senang sekali apabila diajak tetangga pergi  memancing di sungai-sungai kecil atau empang tidak terurus,  kira-kira waktu itu tahun 1980, di wilayah Surabaya Timur masih banyak sawah dan lahan hijau lainnya, tidak seperti sekarang sudah berubah menjadi Mall atau  rumah-rumah mewah.  Masih lekat diingatan ini sungguh suatu pengalaman yang menyenangkan, bebas merdeka bersama teman sepermainan, meskipun waktu pulang selalu mendapatkan omelan hadiah dari ibunda tercinta karena baju yang saya kenakan selalu kotor berlumpur.

Pada suatu hari ketika kami sedang memancing ditepi sungai kecil tersebut salah satu teman menemukan cincin, dari bahan kuningan dengan batu akik sedikit rusak dan tidak ada harganya,  cukup unik nampaknya,  tetapi namanya anak-anak,  kami langsung berebut untuk melihat, ingin tahu apa yang didapat,  karena berebut, cincin tersebut akhirnya jatuh  ke sungai dangkal tersebut. Dasar usia anak,  kami langsung terjun masuk sungai untuk mencari-cari cincin tersebut didasar. Semakin bersemangat, semakin keruh airnya, akhirnya kami menyerah setelah 1 jam mengobok-obok sungai kecil tersebut. Dan hasilnya tidak menemukan apa yang dicari,  karena kelelahan kami duduk disungai sehingga lupa tujuan awal untuk memancing ikan sungai. Kira-kira satu jam kami berisirahat, dan air sungai sudah mengendap cincin tersebut mulai tampak dari tepi sungai. Dengan air jernih dasar sungai pun menjadi tampak, apalagi cincin didasar sungai memiliki warna yang kontras dengan warna lumpur dasar sungai.

Saudaraku, seandainya ada diciptakan teropong kejujuran, ketulusan hati, maka ketika kita boleh menggunakan akan tampak bahwa banyak sekali orang yang didepan sangat cantik, indah dan baik tetapi didalamnya  kelihatan keropos, kesannya damai tetapi gersang.  Banyak orang berusaha untuk mendapatkan inti dari kedamaian, kesejahteraan rohani tetapi masih membawa kekeruhan dihatinya, ada dendam, kebencian kepada saudaranya, tetangganya, anggota kelompoknya, walaupun dimulut sudah memaafkan, ah… itu peristiwa lalu, sudah lewat dan saya sudah melupakan. Sering kali seseorang melontakan kata-kata tersebut ketika diingatkan, tetapi ternyata masih ada kebencian didalam sana.  Seperti pengalaman saya ketika usia anak-anak, air menjadi keruh karena kotoran didasar sungai naik setelah diobok-obok, menghalangi pandangan ke dasar sungai, saya kira akan sama halnya dengan masih adanya endapan kebencian, kedongkolan, dan sakit hati lainnya, endapan tersebut akan menghalangi maksud baik kita untuk beribadah, dan memenuhi ruang hati menuju kedewasaan rohani, maka endapkan dulu permasalahan yang ada, berdamailah dengan diri sendiri supaya tampak kejernihan.

Seperti cerita Nazarudin; Ketika Nazarudin, kehilangan jam tangannya diatas tumpukan jerami, 2 jam lewat seluruh jerami di bolak-balik, dibongkar dan ditimbun kembali, tetapi jerih payahnya tidak ada hasil, semakin gundah hatinya, semakin keras usahanya, semakin sia-sia hasil yang didapat.  Ketika seorang anak kecil lewat dan melihat Nazarudin bergulat dengan jerami, tergeraklah hatinya untuk menanyakan peristiwa apa yang sedang dialami Nazarudin, ternyata sejak 2 jam yang lalu Nazarudin mencari-cari jam tangan kesayangannya yang jatuh kedalam jerami dan tidak ditemukan.

Si anak lantas mengajak Nazarudin untuk istirahat sejenak duduk melepaskan ketegangan, lalu meminta agar semua pintu dan jendela ditutup serta lampu penerangan dinyalakan, dengan maksud untuk menjaga keheningan suasana tempat tersebut.  Memang benar bahwa dengan suasana hening, bunyi jam tangan tersebut keras terdengar, dan dalam waktu singkat jam tangan yang dicari-cari dapat ditemukan, bahkan oleh anak kecil tersebut.

Buatlah Susana menjadi hening, endapkan segala permasalahan hidup, dan berdamailah pada diri sendiri, maka dengan mudah semua akan engkau kuasai.

Didalam Injil disampaikan, berdamailah dengan dirimu sendiri, dengan saudaramu, dan selesaikan masalahmu terlebih dahulu, kemudian ikutlah Aku.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s