Yang dicari manusia di dalam hidupnya


Ketika saya sedang mengunjungi sebuah sekolah di Surabaya, saya mendengar seorang guru sekolah dasar tersebut menanyakan kepada anak-anak didiknya, apa yang kamu cita-citakan anakku, menjadi dokter ibu, baik anakku.., yang lain menjadi insinyur ibu, bagus… tetapi ada juga seorang anak yang lebih kritis, saya mau menjadi orang kaya, ibu..wah bagus-bagus jawab ibu guru di kelas tersebut sambil sedikit kaget, dari sekian banyak jawaban anak-anak yang polos dan suci hatinya, jarang sekali saya mendengar cita-cita ingin menjadi  seorang pendeta atau biarawan atau seorang pemuka gereja, semua lebih condong ke hal duniawi. Hal tersebut wajar saya mengerti mengapa anak-anak menjawab dengan spontan yang diinginkan kelak. Nampaknya apabila kita telaah lebih dalam, sejak anak-anak kita dalam kandunganpun seorang manusia selalu menanamkan kepada anak-anaknya dan keluarga bahwa yang harus selalu dipikirkan adalah kehidupan  jasmaniah saja, banyak uang, harta berlimpah, jabatan tinggi.    Jelas-jelas perimbangan antara kehidupan jasmaniah dan rohaniah belum tampak sejak dari mula.

Didalam  perjalanan  hidup  seorang   manusia,  yang  dimulai dari bayi, anak, remaja, hingga dewasa adalah suatu proses mencari jati dirinya, tetapi di dalam proses tersebut banyak orang didalam hidupnya lebih mencari sesuatu yang tidak kekal, mudah didapat serta bersifat instant, untuk dapat segera dirasakan atau dapat juga diartikan yang menimbulkan kenikmatan badaniah saja. Kenapa? Karena lebih mudah dirasakan dalam waktu singkat walaupun didalam proses pencarian tersebut banyak menguras tenaga, pikiran, waktu serta materi yang tidak sedikit. tetapi karena yang dicari tidak kekal maka sifatnya pun tidak kekal mudah hilang atau menguap, sehingga harus terus menerus mempertahankan supaya tidak berkurang, sampai tiba waktunya putuslah tenaga karena seorang manusia memiliki jasmaniah yang tidak kekal adanya. Apakah seorang manusia tersebut salah dalam mengambil langkah tersebut ?  saya rasa tidak.  Apabila jawabanya karena seorang manusia tersebut tidak tau atau belum mengenal, tetapi apabila seorang manusia tersebut mengetahui tetapi masih melakukan hal tersebut, barulah dikatakan salah dan sia-sialah yang mereka cari, jadi tugas kita mengenalkan kepada mereka akan hal tersebut, selebihnya terserah mereka mau mengambil jalan mana yang dipilih.

Pada dasarnya menurut saya manusia terdiri dari 2 komponen hidup, yaitu badaniah atau jasmani dan rohaniah, dimana roh dikatakan kekal adanya sedangkan badaniah tidak, seperti seorang anak kecil meniup balon udara, balon tersebut akan dikembangkan oleh udara, sama halnya dengan seorang manusia dengan dua komponen tersebut, apabila roh hidup dan berkembang maka jasmaniah akan hidup dan berkembang mengikuti roh yang mengembangkan. Maka sering kali kita melihat banyak orang suci, artinya memiliki roh suci murni, jasmaniahnya kelihatan lebih muda, atau awet muda, bahkan  sering kali kita mendengar, ada orang yang jasadnya atau jasmaniahnya  tidak hancur dimakan alam, setelah kematian karena rohnya yang sempurna dan sudah sangat menyatu dalam jasmaninya bahkan  Setelah rohnya meninggalkan jasmaninya.

Melihat dua komponen serta memahami kelemahan dari komponen jasmaniah, maka seharusnya seorang manusia didalam hidupnya lebih mencari keseimbangan, antara keduanya, mengisi kerohanian dengan jalan roh dan mengisi jasmaniah dengan jalan jasmani. Mengisi hidup dengan didasari rasa iling atau senantiasa menyadari apa yang diperbuat saat ini lebih mengembangkan komponen yang mana. Roh bersifat kekal dan abadi selamanya, tetapi jasmaniah tidak kekal dan akan rusak setelah darah tidak beredar lagi, karena jantung berhenti.

Yesus Tuhan sendiri pernah mengingatkan kepada imam-imam farisi, waktu imam-imam tersebut berniat mencobai, dengan memberikan 1 keping uang dinar sambil melontarkan pertanyaan, kepada siapa uang ini kita persembahkan ? Dengan tegas yesus mengatakan, bahwa gambar siapa didalam keping uang tersebut, sambil melanjutkan, berikan kepada kaisar  yang menjadi hak kaisar, dan berikan kepada Allah yang menjadi hak Allah.

Yesus Tuhan, mengetahui bahwa sekarang ini kita hidup dengan jasmani, kita harus pelihara dengan sebaik-baiknya maka bekerjalah dengan sebaik-baiknya, dengan keras dan sungguh-sungguh, Bahkan murid-murid yesus mengatakan dengan keras kepada pengikutnya “ Kalau tidak mau bekerja, lebih baik jangan makan saja “ tetapi, ingatlah bahwa ada roh didalam tubuh ini yang juga harus diisi dengan sebaik-baiknya dan sepenuh-penuhnya.

Saudaraku, senantiasa ingat dan sadar bahkan apapun yang kita kerjakan secara jasmani selalu berhubungan dengan rohani kita, maka yang benar adalah mengisi rohani kita dengan benar dan sepenuh-penuhnya maka kerja jasmani kita akan mengikutinya karena berada didalam  tubuh yang disebut tubuh seorang manusia. Dan hal itu dapat dipastikan baik dan benar adanya, karena bimbingan roh yang kudus.

 

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s