Semakin takut kehilangan, semakin besar peluang hilang


Ada kata-kata dengan makna yang dalam pernah saya baca, yaitu ketika kamu belum memiliki apa-apa,  kamu bebas seperti burung tanpa sangkar, tetapi ketika kamu memiliki harta,  kamu membuat dirimu didalam sangkar burung, dan burung bebas melihat kamu.

Saudaraku dari kata-kata tersebut mungkin dapat ditafsirkan bahwa “ harta duniawilah ” yang membatasi kebebasan kita.  Ketika Presiden Obama, belum menjadi presiden Negara super power, yang saya perkirakan adalah si anak menteng yang biasa beli jajan di penjual makanan asongan sekitar sekolah, yang biasa dengan bebas bermain dengan teman-temannya tanpa penjagaan dan batasan protokoler lainnya, bebas dan merdeka.

Tetapi ketika menjadi pejabat Negara, setiap gerakannya selalu di proteksi, bahkan untuk jamuan makan saja, makananya harus dicicipi dulu, dikuatirkan ada racun didalamnya. Mungkin itu yang dimaksud dari kata-kata bijak tersebut.

Ketika seseorang sudah memiliki “ harta duniawi ” baik itu dalam bentuk fisik sesungguhnya atau pangkat jabatan, pertama-tama yang dialami adalah menikmati, kemudian menjadi biasa untuk menikmati, dan terakhir kecanduan untuk mengulangi, itulah yang disebut materi ujian dalam pengendalian  hawa nafsu.

Seseorang menjadi sangat ketakutan untuk kehilangan yang sudah pernah dirasakan nikmatnya, sehingga semakin takut kehilangan semakin kuat usahanya untuk mempertahankannya. Karena semakin kuat mempertahankan maka energy dan pikiran terpusat kearah satu titik tersebut. Sehingga karena semua energy tercurah di satu titik munculah kebocoran-kebocoran di titik lainnya, karena kurang pemerataan perhatian, terbengkalai dan berkarat karena sifat manusia sangat terbatas.

Saya jadi teringat ketika pemilik supermarket  besar di pulau sebrang, datang dengan permasalahan serius rumah tangganya, nampaknya mereka sedang merencanakan perceraian didalam hati masing-masing, ketika saya mendengar dan mempelajari permasalahannya adalah tingginya ego masing-masing, kurangnya komunikasi, dan seterusnya semua bermuara karena terlalu lelah dalam menjalankan pekerjaannya, dari pagi sampai malam dia bekerja keras, dan focus pada pengumpulan harta duniawi yang banyak, tetapi dia lupa bahwa ada titik lain yaitu, keluarga yang terabaikan. Timbulah pertanyaan dalam diri saya, Jadi kerja keras selama ini untuk siapa, bukankan untuk keluarga ? Kalau begitu ada baiknya membuat skala prioritas, mana yang harus didahulukan, mana yang kedua dan seterusnya,  supaya tidak ada konsentrasi pada satu titik dan terabaikan titik yang lainnya.

Saudaraku pernah saya mendengar sebuah cerita yang bagus dan mengandung makna yang sangat dalam, untuk direfleksikan dalam diri kita, tentang arti  “ menikmati tetapi tidak memiliki ”.

Dikisahkan seorang pasangan suami istri belum dikaruniai anak ,mereka seorang petani sederhana dan hidupnyapun sangat sederhana, sang suami pernah bekerja sebagai sopir angkota di desanya bercita-cita dan berkeinginan untuk memiliki rumah mewah dan besar, dengan dapur yang besar untuk dapat memasak makanan yang enak-enak, serta mobil yang mewah, mereka berdoa pada Tuhan semoga cita-citanya dapat tercapai. Hari berjalan begitu cepat tanpa ada perubahan dalam kehidupan mereka hingga suatu hari mereka berpikir mungkin dikota peluang itu ada.

mereka mencoba melamar pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan sopir, singkat cerita kedua pasangan ini akhirnya diterima bekerja di rumah milik pengusaha besar yang memiliki banyak rumah, agar rumah-rumahnya terawat dengan baik maka pengusaha tersebut mempekerjakan pembantu rumah tangga dan sopir untuk merawat mobil mewahnya.  Karena tuntutan pekerjaannya  mengharuskan pengusaha itu  sering kali keluar negeri untuk jangka waktu lama, sehingga hanya pasangan suami istri dari desa, yang penuh kesederhanaan itulah yang menjaga dan merawat rumah itu.

Saudaraku  apabila melihat kisah tersebut, timbul pertanyaan dalam hati saya, rumah dan mobil tersebut adalah milik pengusaha besar tersebut, tetapi suasana rumah dan mobil tersebut ternyata milik pasangan suami istri dari desa tersebut, walaupun jabatan mereka sebagai pembantu dan sopir.

Tuhan memang Maha Kuasa, Dia mengabulkan cita-cita pasangan suami istri tersebut, secara essensial, dengan cara yang unik. Sepasang suami istri tersebut, tidak takut kehilangan sesuatu, karena memang tidak banyak yang dia punyai, tetapi dia mendapatkan essensi dari yang diinginkan, dari apa yang dia doakan dengan sungguh-sungguh tanpa tuntutan yang detail.

Hal duniawi sudah digariskan bahwa sifatnya tidak kekal, apabila kita masih saja belum memahami hukum tersebut maka kelelahan, kesakitan dan penyiksaan dalam diri sendiri yang akan dirasakan apabila kita berkeras untuk mempertahankan.

Ketika saya merasakan pentingnya penyerahan diri, kepasrahan total, dan menjalin dengan nikmat membuat perubahan besar dalam hal keimanan, saya jadi teringat kisah seorang penderita insomia.

Ada banyak keluhan pasien yang kita dengarkan apabila kita mencoba menjadi asistent dokter psikolog yang sedang praktek, ada satu yang menarik yang dikisahkan teman saya seorang dokter. Ada seorang pejabat dengan berkelimpahan harta duniawi yang mengeluhkan sulit tidur dan menderita insomia berat.  (insomia adalah penyakit psikis yang membuat seseorang kesulitan dalam istirahat atau tidur) Usut punya usut ternyata pikirannya selalu cemas dan takut pikirannya tidak dapat beristirahat walaupun fisiknya menghendaki untuk istirahat, apabila lama berlangsung keadaan ini membuat fisik menjadi lemah. Dan penyakit lainnya terus bermunculan.

Kecemasan dan ketakutan yang selalu dipikirkan adalah ketakutan akan pesaingnya, ketakutan kehilangan jabatan dan ketakutan akan kehilangan fasilitas lainnya.  Memang sungguh tersiksa apabila mengalami insomia, saya pernah merasakan beberapa waktu yang lalu, semua orang bangun dari tidur dengan segar dan bersemangat, tetapi saya lelah, lesu tidak bersemangat.  Sedih, jengkel rasanya mata dan badan lelah ingin cepat-cepat tidur dengan lelap tetapi keinginan tersebut tidak dapat terpenuhi.

Saudaraku, keadaan ini sangat berbalik 180 derajat dengan para pramuwisma yang sering kali kita lihat dipinggir-pinggir toko waktu malam, mereka tidur hanya beralas koran atau kerdus bekas seadanya, bahkan dengan suara bising kendaraan atau tetesan air hujan disebelahnya, mereka tidur dengan lelap tanpa ada kesulitan sedikitpun, memang dalam pikiran mereka tidak ada yang dicemaskan, mereka tidak takut kehilangan harta duniawi karena memang tidak memilikinya.

Alangkah indahnya apabila kita memiliki harta duniawi, ditambah dengan kesadaran diri sendiri bahwa harta duniawi tersebut tidak kekal, karenanya telah siap kehilangan apabila waktunya tiba, sehingga tidak ada lagi kecemasan dalam diri sendiri.

KETAKUTAN DAN  KECEMASAN  TANDA  TIDAK  SIAP

UNTUK MEMBUAT KITA SIAP

HILANGKAN RASA TAKUT DAN CEMAS.

 

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s