Pengendalian nafsu duniawi


Pada suatu ketika, saya pernah bertukar pikiran dengan seorang teman, mantan pimpinan Bank yang beralih profesi setelah pensiun menjadi pengusaha rumah makan.  Sebut saja namanya Totok,  Sahabat tersebut saat ini sangat sukses dalam mengelola rumah makan ayam goreng di jalan masuk menuju kota Kediri, saya tanyakan apa kunci sukses pengelolaan rumah makan, jawabnya sederhana saja, penuhi saja keinginan nafsu makan pelanggan, misalnya pemilihan lokasi tepat dimana jam pelanggan harus makan,  bagi pelanggan dari Surabaya yang akan ke Jakarta melalui jalur selatan, atau  dari Surabaya akan ke Semarang dan melalui kota Kediri atau ke tempat lain,  tepat di lokasi tersebut adalah jam makan.  Selanjutnya kelengkapan menu, rasa dan kecepatan penyajian selain syarat utama kebersihan.  Saudara memang cukup jeli sahabat Totok tersebut,  dengan pola pikir yang kebanyakan orang melewatkan tetapi menjadikan alternative no 1 untuk pemilihan lokasi.

Nafsu duniawi, memang diciptakan Tuhan agar manusia dapat lebih hidup, dan menikmati hidup, tetapi Nafsu itupula yang menghancurkan manusia apabila tidak dikendalikan dengan baik. Ada Nafsu Birahi, Nafsu Makan, Nafsu untuk Menang dalam kompetisi, Nafsu untuk menduduki jabatan tinggi, Nafsu berpenghasilan tinggi, dst

Ada banyak orang mengidentifikasi kata“ Nafsu “ adalah sesuatu yang buruk, karena mereka melihat dari hasil akhir dari tindak perbuatan tersebut, misalnya Nafsu Birahi,  seringkali diartikan keinginan untuk berbuat lebih atas birahi yang dimiki seseorang, dengan tindak penyaluran yang kurang pada tempatnya, sehingga berakibat tidak baik bagi dirinya sendiri dan melukai perasaan orang lain,  seorang Raja Daud, raja besar dengan segala karunia Tuhan hanya jatuh oleh hawa nafsu yang tidak dapat dikuasainya, jatuh oleh seorang wanita Betsyeda.  Seorang wanita yang telah bersuami, yang ingin diambil sebagai istrinya, dengan merencanakan pembunuhan atas suaminya. Demikian juga nafsu untuk menduduki jabatan tinggi,  selalu diidentikkan dengan tindakan illegal hingga membuat bos senang dan akhirnya dapat promosi ke jenjang yang lebih tinggi.

Saya berpikir ada baiknya kalau memulai dengan kata “ Nafsu “ adalah sesuatu yang baik, tanpa nafsu manusia tidak bisa berbuat dan bertindak dengan sebaik-baiknya, sekeras-kerasnya dan sesungguh-sungguhnya, tetapi tetap dilandasi dengan pengendalian nafsu tersebut.  Seperti sebuah kuda pacu, begitu ada tanda mulai,  kuda pacu berlari sekuat tenaga kedepan, pokoknya kedepan saja, coba saudara bayangkan tanpa joki sebagai pengendali, penyemangat, pembimbing pasti kuda pacu tersebut akan tabrak sani-sini, mengacau kuda-kuda pacu yang lainnya, membuat onar dan meresahkan orang lain.

Tanpa Nafsu birahi, manusia tidak bisa bereproduksi dengan baik, manusia tidak bisa berkembang biak dengan baik, tanpa nafsu makan maka tubuh jadi lemas, sakit dan mati, tanpa nafsu untuk kompetisi tidak ada semangat berlatih untuk menjadi yang terbaik.

Bagaimana kita dapat menang dalam pengendalian hawa nafsu?  saudara kita umat muslim setiap tahun selalu melatih diri berpuasa satu bulan penuh, saudara kita umat budha pun juga melakukan yang sama berpuasa dan bermeditasi, bahkan di gereja katolik dan Kristen pun mengenal berpuasa dan berpantang 40 hari lamanya. Berpuasa artinya berusaha untuk mengendalikan diri, menahan rasa lapar dan dahaga, menahan emosi dan amarah serta lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta,  Proses melatih dan mengendalikan diri, bukan menjauhi atau membuang jauh agar tidak tampak lagi, adalah hal yang baik, tetapi lebih kearah menerima, menjalani dengan kesadaran penuh jauh lebih baik.

Kesadaran diri sendiri, senantiasa mengembangkan perasaan iling dan waspada, adalah pengendali nafsu kearah yang lebih baik.  Bila kita makan lemak terus menerus pasti empedu kita akan kerja keras, suatu saat akan lelah dan sakit, apabila kita menyadari hal tersebut maka kita akan mengurangi makan lemak dan memperbanyak mengkonsumsi serat supaya lebih sehat. Bila kita membiarkan nafsu menumpuk harta duniawi, maka kita akan dipikat dan terikat olehnya, maka pasti kita akan takut kehilangan harta duniawi tersebut, secara nyata kita berusaha mempertahankan sehingga akan kehilangan yang lainnya misalnya suasana keluarga yang hangat,  atau dengan kata lain kita jadi budak akan harta duniawi tersebut.

Tuhan sangat senang apabila kita berusaha dengan sebaik-baiknya dan bekerja dengan sekeras-kerasnya, karena sebenarnya Tuhan sudah memberikan kepercayaan kepada kita, sebagian dari pekerjaanya dipercayakan kepada kita untuk dapat kita selesaikan, bagaimana mungkin seorang tuan tinggal diam apabila hambanya hanya bermalas-malasan. Tetapi Tuhan pun tidak menginginkan manusia menduakan, dan menomor satukan hal lain, apalagi manusia itu sudah tau dan mengerti.

Sekarang tinggal kita, memilih mau tinggal didalamnya dengan kenikmatan yang dapat dirasakan dengan cepat, dengan mengembangkan cara yang illegal atau dengan cara yang legal tetapi ada proses pencapaian dan pasti.

Kembangkan doa, setiap pagi ketika mata terbuka, ketika akan memulai suatu pekerjaan, ucapkan syukur ketika menikmati anugerah atas berkatnya, dan sebelum menutup mata agar badan dan jiwamu senantisa  ada kesadaran bahwa didalam setiap langkah ada campur tangan Tuhan disitu.

 

This entry was posted in Kesadaran and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s