Apabila saatnya tiba berangkatlah dengan indah


Hari sabtu bulan yang lalu, ketika saya sedang membaca salah satu surat kabar, tanpa sadar saya membuka lembar ketiga surat kabar tersebut, yaitu lembar iklan dengan sisipan lembaran berita duka cita, seketika itu juga saya  jadi terkejut ketika melihat teman kecil sepermainan ternyata telah dipanggil menghadap Tuhan satu hari lewat,  pada usia ke 41 th. Saya jadi sedikit takut ketika membayangkan apabila waktu saya tiba seperti teman sepermainan tersebut, siap atau tidak, mau atau tidak tetap kita harus berangkat apabila waktu tersebut tiba. Ketakutan saya bukan pada keluarga atau anak istri yang saya tinggalkan, karena saya telah siapkan pekerjaan sederhana dan dengan polis asuransi walaupun tidak banyak, tetapi lebih ke arah kepastian batas ambang suasana yang akan ditempati roh saya kelak setelah melewati jembatan kematian.

Saya merasa dosa-dosa saya masih sangat banyak, baik kepada orang tua, anak dan istri ataupun sahabat dan handai taulan, dan yang terutama kepada Tuhan. Kesadaran  inilah membuat keyakinan saya untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan berusaha mendewasakan kehidupan rohani saya semakin besar, serta berusaha mengingatkan kepada saudara apabila waktu itu tiba sudah siapkah saudara menerima keputusan pengadilan akhirat ?

Ketika kita mendengar, membaca dan mengerti sesaat kita jadi tersentak kaget, dan berusaha untuk mengikuti persiapan-persiapan itu, tetapi setelah beberapa saat kembali lagi kita keluar dari jalur yang ada,  menjadi lupa dan kembali pada kebiasaan lama, Hal demikian adalah wajar, karena kita manusia terdiri dari daging  dan karenanya lebih tertarik ke hal-hal yang bersifat mudah dirasakan, kesadaran itulah yang penting, untuk selalu dikembangkan berulang-ulang hingga menjadi suatu kebiasaan yang baik, hingga apabila waktunya tibapun kita sudah siap.

Ketika saya membaca tulisan karya suster Teresa, dari Kalkuta, sungguh suatu karya kemanusiaan yang besar, beliau tidak segan-segan membantu, menjamah dan merawat orang yang sakit kusta, yang sekarat dan berbau busuk dengan banyak luka karena kemiskinan dan tidak terobati, beliau berkarya dengan cinta dan kasih yang tulus dan dengan sungguh-sungguh, semangat melayani kepada sesama terus berkobar-kobar karena bimbingan roh kudus yang hidup didalam hatinya, Bahkan melupakan kesehatan diri sendiri, hingga suatu hari beliau harus dirawat  dirumah sakit karena kekurangan gula akibat  jatah makan beliau sekian hari diberikan kepada orang yang kelaparan. Beliau  berkarya dengan cara menghantar jiwa setiap orang yang menuju kematian dengan cinta kasih.

Suster Teresa mengatakan bahwa kami tidak memiliki apa-apa untuk mereka, karena kami tidak memiliki cukup dana untuk membantu mereka yang sedang sakit atau sekarat, kami hanya bisa mengenalkan kepada mereka arti cinta kasih yang sesungguhnya, sehingga sebelum mereka dipanggil Tuhan, paling tidak mereka mengenal arti cinta dan kasih itu, maka mereka mati dengan kedamaian.

Bagi kita yang masih diberikan kesempatan untuk berubah, bertobat, apakah kita sia-siakan kesempatan tersebut ?  Suster Teresa dengan kerja kerasnya menginginkan satu harapan untuk mengenalkan arti cinta kasih kepada mereka, supaya mereka mati dalam damai, apakah kita yang masih sehat dan penuh kesadaran tidak menginginkan hal tersebut, mendidik diri kita supaya kelak kitapun memiliki kedamaian dalam kematian kita.

Pernah suatu ketika saya mencoba berdialog dengan salah satu pemimpin gereja tentang syarat supaya bisa mendiami suasana surga atau neraka. Pemimpin gereja tersebut dengan bijak mengilustrasikan kemungkinan-kemungkinan tersebut dengan cara sedikit konyol dan dengan cara yang sederhana serta mudah dimengerti.

Dikatakan bahwa Tuhan mempunyai maksud dengan menciptakan malaikat begitu banyak, jumlah malaikat sama dengan jumlah manusia di bumi, setiap malaikat diperintahkan untuk selalu membawa buku kehidupan, dan mendampingi serta mencatat setiap tindakan yang dilakukan oleh manusia binaannya.  Apabila seorang manusia berbuat baik, misalnya menolong orang sakit dengan sungguh-sungguh dicatatlah nilai + 1, apabila berbuat baik lagi memberi sedekah dengan iklas menjadi + 2, demikian juga apabila membohongi orang menjadi berkurang  -1,  memfitnah berkurang -10 lagi, sehingga skor menjadi minus. Dijelaskan bahwa masing-masing perbuatan memilki nilai sendiri-sendiri, seperti halnya menghadiri misa/ibadah mendoakan arwah, diyakini memiliki skor 5. Membunuh memiliki skor – 2000.000 misalnya.  Jika waktu kita tiba, maka setelah 40 hari, dan setelah malaikat tersebut menghadap ke hakim agung untuk menghitung total skor, apabila didapat skor minus silahkan menempati ambang suasana neraka kelas 2 sesuai minusnya, demikian juga apabila plus silahkan menempati ambang surga kelas 3 sesuai positifnya. Suatu penjelasan sedikit koyol tetapi cukup bisa menggambarkan langkah apa yang perlu dipersiapakan untuk menunggu waktu kita tiba, cetaklah poin positif sebanyak-banyaknya selagi ada kesempatan.

Saudaraku, berbuatlah baik selagi bisa dan masih tersedia waktu, tidak perlu menunggu lagi, sebab siapa tau satu jam lagi kita mendapatkan panggilan tersebut, persiapkan dirimu sebaik-baiknya, supaya saatnya tiba, dan kita bisa katakan pada diri kita sendiri, ya Tuhan kami sudah siap menghadap Engkau.

Saudaraku, apakah  masih ingat kisah 5 gadis bodoh dan 5 gadis pandai di dalam kitab suci,  ada baiknya kita membaca kembali sepenggal cerita tersebut, 5 gadis bodoh menunggu sang mempelai dengan lentera tanpa persiapan minyak cadangan lentera, sedangkan 5 gadis pandai membawa cadangan minyak kalau-kalau diperlukan nanti. Lama ditunggu sang mempelai tidak datang juga hingga api lentera mulai padam sebab minyak ke 10 gadis tersebut mulai habis, singkat cerita ketika 5 gadis bodoh pergi mencari minyak, sang mempelai datang dan masuk didalam ruang pesta untuk selanjutnya pintu ditutup rapat, sehingga ketika saat 5 gadis bodoh datang dengan nyala terang api lentera setelah diisi minyak, mereka tidak dapat masuk dalam pesta sang mempelai tersebut karena pintu sudah ditutup.

Saudaraku, ketika membaca kisah tersebut, saya semakin yakin bahwa perlunya  kita  melakukan persiapan selagi bisa, “sang mempelai” datang  tanpa bisa di perkirakan, penyesalan kemudian tidak berguna.  Selain pesan persiapan yang dapat saya tangkap , ada pesan mendalam lain yang sebenarnya juga terkandung didalamnya , bahwa didalam kisah tersebut dapat saya uraikan bahwa kelima 5 gadis bodoh tersebut dapat juga diartikan sebagai bentuk ; unsur didalam diri setiap manusia; 1. kesadaran, 2. emosi, 3. tindakan fisik dan 4. tubuh jasmaniah yang dikontrol oleh 5. roh kita,  atau dikenal juga dengan unsur  1. Udara, 2. Air, 3. Api dan 4. Tanah  yang digerakkan oleh 5. Roh,  dalam hal 5 gadis bodoh tersebut ke 5 unsur tersebut tidak di persiapkan dengan baik sehingga lewatlah kesempatan itu, tetapi apabila kita bisa kembangkan roh sebagai sumber hidup untuk keempat unsur tersebut, saya kira nasibnya akan menjadi 5 gadis yang pandai.   Kelima unsur tersebut didalam ilmu kejawen dikenal dengan istilah sadulur 4, kalimo pancer.  Atau apabila kita pernah melihat cerita “Kera Sakti”  Sun Go Kong bersama biksu Tong mencari kitab suci menuju  Timur/ India, saya kira juga terdiri dari 5 unsur : 1. Kera – Sun Go Kong, dilambangkan emosi tinggi, sombong dan keras hati, 2. Babi – Pat Kai, dilambangkan nafsu duniawi, nafsu birahi, dan 3. Pendeta Bulan, dilambangkan  sikap dingin, cuek dan tidak mau tau, 4. Kuda dilambangkan pemikul beban, serta suka ngadat 5. Biksu Tong dilambangkan Roh pengendali.  Cerita tersebut juga terdiri 5 komponen dalam hidup, dan semua itu letaknya didalam diri seorang manusia.  Kemampuan pengendalian 4 unsur tersebut oleh Roh yang hidup akan mendorong kita untuk siap mengadapi saat-saat panggilan tersebut. Baik atau buruk semua dikendalikan oleh Roh yang hidup, yang diasah dari hari lepas hari.  Sehingga apabila saat panggilan tiba berangkatlah dengan suka cita, tanpa beban, berangkatlah dalam damai.

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s