Anda tahu dimana Tuhan itu berada


Waktu kecil saya masih ingat betul ketika, guru sekolah minggu menanyakan pertanyaan yang sama, Apakah anak-anak tahu dimana Tuhan berada? Ada teman-teman perempuan dan laki-laki menjawab dengan semangat, di Surga ! ada yang menjawab di Hati kita ! ada yang menjawab di hati orang baik ! ada yang menjawab di mama-papa kita!

Saudaraku,  anak-anak menjawab dengan begitu polos dan bersemangat dan ternyata dengan kepolosan dan jawaban dari hati mereka, semua adalah benar adanya, hal tersebut setelah setua ini baru saya sadari dan mengerti, bahwa jawaban yang keluar dari hati yang bersih adalah kebenaran sifatnya.

Mari kita lihat kembali didalam alkitab  kejadian, dimana disitu dikisahkan tentang seorang manusia yang Tuhan ciptakan dan selanjutnya dinamakan Adam.

Tuhan yang Maha Besar menciptakan Adam dari tanah liat yang dibentuk dengan tangan dan dihembusi oleh nafas Allah sendiri.  Kita, sebagai seorang manusia keturunan dari Adam tentunya memiliki warisan yang sama akan peristiwa tersebut. Saya mencoba merenung dan memahami makna peristiwa tersebut, ternyata ada nafas Allah di dalam diri kita masing-masing, atau dapat diartikan setiap diri pribadi manusia yang dilahirkan  selalu dilengkapi dengan sebagian diri Allah didalam diri kita.  Jadi ternyata benarlah yang dijawab teman-teman kecil saya waktu sekolah minggu, untuk pertanyaan Tuhan berada dimana. Tuhan berada dimana-mana karena ke EsaNya tetapi, lebih spesifik lagi Tuhan ada di dalam hati kita, masing-masing.

Cerita nyata ini menguatkan apa yang saya tuliskan diatas, karena saya mengalami sendiri.  Kira-kira 6 tahun yang lalu, saya sedang berdinas di Probolinggo,  untuk memimpin cabang bank nasional berskala Internasional. Istri dan anak saya tinggal dan menetap di Malang, sehingga setiap jumat selepas jam kantor saya selalu melesat ke Malang, demikian  juga setiap hari minggu selepas makan malam selalu kembali ke Probolinggo seorang diri, melalui jalan darat. Dan ketika kepercayaan akan diri sendiri mengalahkan segalanya, walaupun sekali-kali berdoa untuk melapor kepada Tuhan, mengandalkan pikiran dan keyakinan diri sendiri memang memiliki kekuatan yang besar untuk sukses, sehingga seringkali Tuhan hanya dijadikan pelengkap saja atau yang paling parah sebagai  keranjang sampah, artinya kalau sudah timbul masalah besar dan sulit dipecahkan baru meminta petunjukNya, ataupun malah meletakkan Tuhan  sebagai pembuangan akhir, tempat untuk disalahkan.

Suatu hari saya dihadapkan oleh suatu peristiwa dimana saya menguji Tuhan, ya saya seorang manusia yang benar-benar tidak tau diri.  Saya berpikir bahwa dengan kerja keras dan mengandalkan pikiran mampu mencapai kesuksesan yang diinginkan, saya berpikir bahwa Tuhan memberikan kehendak bebas dan kesuksesan ditentukan oleh tangan kita sendiri. (dialog ini semua terjadi didalam diri sendiri). Didalam pikiran terlintas, bahwa apabila saya berdoa,  artinya saya hanya berbicara dengan tembok.  Beberapa hari kemudian saya bicara dengan Tuhan, apabila Engkau ada, dan masih mencintaiku tolong buktikan itu. (sungguh saya seorang manusia yang benar-benar berdosa berat). Apa yang terjadi pada saya, selanjutnya.

Memang Tuhan benar-benar mencintai saya, dan itu Dia buktikan sendiri. Suatu Malam kira-kira  pk 20.00 – 21.00, ketika saya seorang diri, dihadapkan dengan banjir krn hujan lebat, peristiwa tsb terjadi di sekitar kedawung Pasuruan. Waktu saya dalam perjalanan kembali ke Probolinggo. Sebenarnya 3 kali sudah  Tuhan berbicara melalui hati saya, tetapi karena ketegaran hati sayalah yang membutakan sehingga memang harus menghadapi peristiwa tsb,  Saya hampir mati dibunuh sekelompok orang, ditengah-tengah banjir.

Hujan semakin lebat  dan ketika air terus tinggi, mobil semakin lambat, sekelompok orang tidak dikenal, menghentikan mobil yang saya kendarai, dan dengan keangkuhan, saya paksa mobil untuk berjalan karena saya pikir air masih setinggi 30 cm, tapi semakin lama air semakin tinggi  sampai akhirnya saya menyerah dan berniat untuk kembali dari pada berspekulasi, tiba-tiba muncul dari depan sekelompok pemuda yang berniat buruk, mereka berusaha menghentikan mobil. Hai kamu berhenti-berhenti, bentak mereka.  Karena takut bukanya mobil saya hentikan tetapi saya lebih memaksa mobil jalan terus,  karena saya tau persis apabila berhenti dalam genangan air dapat dipastikan mesin mobil akan mati. Waktu berjalan semakin cepat dan apa yang terjadi adalah  mereka menjadi marah besar, mereka melampiaskan kemarahan dengan tindakan anarkis, mobil yang saya kendarai dipukul, ditendang, dan dilempar kayu, hingga penyok body mobilnya. Saya berpikir masalah mobil rusak asuransi lah yang  mengganti tetapi nyawa siapa yang mengganti. Ketika saya terus berpikir, saya menjadi semakin cemas dan saat itu yang menjadi ketakutan saya hanya mobil sedan tersebut mogok krn air semakin lama semakin tinggi, dan ternyata tanpa disadari  air sudah meluber kekab mesin depan mobil sedan. Saya berpikir apabila mobil mogok pasti matilah saya.  Pada saat kekalutan melanda diri,  karena tidak bisa berbuat sesuatu, tiba-tiba muncul dorongan dalam hati  yang mengatakan berteriaklah minta  tolong pada Tuhan. Sedetik kemudian  mulut saya berteriak “ Tuhan Tolong saya ”  seketika itu juga  apa yang terjadi, saudaraku, Mobil sedan meluncur seperti kapal, tanpa halangan, meninggalkan sekelompok pemuda tersebut. Beberapa menit kemudian ketika genangan air sudah terlewat, mesin mobil mati dan tidak bisa distart lagi.

Ketika seorang manusia dihadapkan oleh suatu peristiwa, dimana kemampuan fisik dan pikiran tidak berdaya, tidak mampu berbuat apa-apa, disitulah timbul pikiran penyesalan apabila tidak ada yang saudara harapkan untuk menolong,  tetapi apabila ada Tuhan yang menyatu didalam diri kita harapan itu tetap bersinar. Paling tidak ada harapan dalam kehidupan setelah kematian.

Saya jadi teringat peristiwa di padang, beberapa waktu yang lalu gempa dengan 7,8 skala rikter lebih menghancurkan sebagian besar kota padang,  bahkan semua peserta rapat di sebuah hotel terkenal tersebut terkubur hidup-hidup, karena tiang dan pondasi hotel tidak kuat menyangga bangunan. Getaran hebat meluluh lantakkan bangunan megah tersebut.  Coba saudaraku bayangkan, seandainya kita yang terkubur hidup-hidup, dimana kekuatan fisik dan kekuatan jasmaniah kita sudah tidak ada lagi, hanya tinggal menghitung jam untuk menuju kematian, apa yang saya dan saudara lakukan.

Seandainya kita belum mengenal Yesus Tuhan dengan sungguh-sungguh. Jawabnya adalah ketakutan-ketakutan yang amat sangat. Tetapi  apabila kepenuhan rohani kita cukup, kita hanya berkata dan berpasrah. Ya Tuhan kalau memang ini kehendakMu, terjadilah padaku, karena sebentar lagi kami akan menyebrang melalui jembatan kematian dan bersatu dengan Engkau di  Surga. Suatu jawaban yang pasti, suatu  jaminan dari Yesus Tuhan sendiri  dan tidak  diragukan lagi.

Tuhan ada didalam hati kita masing-masing, berdialoglah senantiasa, jauhkan dari kekuatan pikiran apabila berdialog denganNya, ikuti petunjukNya sebab Dia akan membimbing kejalan kebenaran hidup.

Dari kisah nyata saya, keangkuhan, ketegaran, percaya akan diri sendiri yang berlebih akan menyumbat saluran komunikasi tersebut, kita menjadi buta akan jalan yang Tuhan berikan, kita berjalan sesuai dengan kehendak kita, kita berputar-putar karena keterbatasan kita melihat kedepan, kita menjadi lelah dan kesal, stress adalah hasil yang kita tuai. Apabila demikian Tuhan Allah menempatkan dirinya sebagai pengamat,  Dia menunggu sampai waktunya tiba untuk menolong, walaupun Dia  sangat ingin menolong, karena Dia sangat mencintai kita.

Apabila kita kembali pada cerita kepolosan anak kecil, Tuhan sangat mencintai dan menyukai anak-anak kecil, karena anak-anak sangat polos, mereka semua berbicara, bersikap dan bertindak dengan hati, pikiran mereka masih belum berkembang tetapi hati mereka yang bicara, anak-anak tau siapa Yesus Tuhan. Karena hati mereka membimbing kearah yang benar.

Saudaraku, kita semua pernah menjadi anak-anak dan kita juga pernah bertindak dan berpikir seperti mereka, kita pernah berpikir dengan polos  dan bertindak dengan hati, tetapi coba saat ini kita renungkan kembali, saat bertumbuh dewasa, keadaan lah yang mengisi dan memaksa kita untuk selalu menggunakan pikiran dan kemauan kita, bahkan senantiasa kita berkata jadilah kehendaku diatas kehendakMu. Sehingga memang terjadilah keseimbangan alam, disisi duniawi diisi penuh, maka disisi rohani semakin berkurang, hingga apabila terjadi terus-menerus akhirnya yang tinggal hanya  suara  Tuhan yang semakin tidak terdengar didalam hati kita, semakin lama semakin kecil dan tidak terdengar lagi, karena kita senantiasa mengisi dari sisi duniawi saja. Kita berusaha menterjemahkan aspek ketuhanan secara rasional, Apabila saat ini kita menyadari untuk kembali memperbaiki diri, berusaha mengerti “ filsafat anak kecil “ maka suara Tuhan kembali jelas kita dengar.

 

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s