Ada kehidupan setelah kematian


Beberapa bulan yang lalu saya jumpa dengan sahabat baik seorang Kristen yang taat, dan kebetulan memiliki kelebihan karunia Tuhan untuk bisa berkomunikasi dengan roh. Sahabat tersebut bercerita bahwa sahabat dekatnya sebut saja Dr. Johan  baru saja meninggal karena kecelakaan, saya menanyakan detail ceritanya, singkat kata sahabat saya tersebut menceritakan bahwa semasa hidupnya Dr Johan adalah  orang yang memiliki kedudukan, sangat terpandang, dan berkelimpahan harta duniawi karena kepandaiannya, ahli dibidang Ginekolog karena kerja kerasnya, tetapi seringkali sifat buruknya lebih menguasai dirinya yaitu, selingkuh dari istrinya dengan perempuan lain yang lebih muda, berbuat dan bersikap meninggikan kedudukan dan harta duniawinya, tidak menghargai orang lain dan menjauhkan diri dari kehidupan rohaninya.

Sebelum meninggal Dr. Johan menceritakan kepada istrinya bahwa buku yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun dan saat ini sedang dibacanya sangat bagus, dia belum selesai membaca keseluruhan. Tetapi keesokan harinya terjadilah peristiwa tersebut.  Dr. Johan Meninggal dalam kecelakaan mobil bersama teman selingkuhannya. Tetapi teman wanitanya masih selamat dan hilang tidak terdengar ceritanya setelah peristiwa tersebut.  Karena buku yang dibacanya belum tuntas, maka buku tersebut diikut sertakan dalam peti jenasah beserta barang-barang kesukaannya sebelum dimakamkan. Hal ini diceritakan istrinya kepada sahabat baiknya yang kebetulan juga sahabat saya tersebut.

Sahabat  saya kemudian melanjutkan cerita, bahwa kemarin Malam Roh Dr Johan datang kerumah, dengan berpakaian ala pengemis, kotor dan lusuh bertelanjang dada, sambil membawa tas plastik putih berisi buku yang belum selesai dibacanya, wajahnya Nampak murung dan sedih serta binggung tak tentu arah.  Sahabat saya kemudian melanjutkan ceritanya, Dia menanyakan Johan kamu mau kemana, kog tampangmu sangat menyedihkan sekali, menggelandang tak tentu arah, bukannya sudah waktunya kamu pulang ke tempatmu. Yang membuat saya kaget, ketika sahabat saya menceritakan, bahwa jawaban roh Dr. Johan tersebut adalah “ saya tidak tau pulang kemana, dan saya tidak tau arah mana yang harus saya ambil untuk pulang” disini saya tidak memiliki apa-apa, hidup miskin dan menggelandang, saya sangat menderita.  Mendengar cerita itu saya benar-benar menjadi takut, membayangkan diri saya kelak.

Saudaraku dari cerita nyata tersebut, bahwa kehidupan setelah kematian jelas ada, bahwa roh bersifat kekal adanya. Dr. Johan menikmati kehidupan didunia, tetapi dia lupa tidak mengisi dan mempersiapkan yang lebih penting, hingga waktunya tiba dia tidak siap dan tidak tau harus kemana, tidak ada bekal yang harusnya dia persiapkan semasa hidup dengan jasmani yang masih lengkap.

Roh bersifat kekal abadi, dia tidak bisa mati dan tidak terbatas ruang dan waktu, hanya tubuh yang disebut badan-jasmani ini yang membungkus dan membalut dari luar,  karena badan-jasmani tidak kekal dan mudah rusak, maka apabila jantung berhenti memompa dan darah menjadi beku, maka rusaklah tubuh yang membalut roh tersebut. Selanjutnya mulailah awal perjalanan kehidupan roh sesuai tingkat kesadaran semasa hidup.

Tuhan memanggil dengan beragam cara dan itu misteri Tuhan bukan kesalahan manusia, tidak perlu diperdebatkan, manusia dipanggil waktu sehat, melalui kecelakaan, atau sakit , kecuali mematikan diri sendiri (bunuh diri),  dan itu sangat dibenci Tuhan.

Didalam keyakinan kristiani kehidupan setelah kematian adalah jelas-jelas ada, sehingga proses kematian dikatakan sebuah jembatan menuju kehidupan lain, seperti halnya sebuah biji tanaman, kulit biji yang membungkus embrio harus hancur dan rusak terlebih dahulu, baru embrio tanaman akan tumbuh menggantikan tanaman induk yang sudah tua. Demikian juga seorang manusia, badaniah atau jasmaniahnya hancur setelah proses kehidupan berhenti, tetapi rohnya akan tetap hidup kekal.

Didalam keyakinan kristianipun digambarkan secara umum bahwa setelah melewati proses transisipun 40 hari lamanya roh seorang manusia masih menyesuaikan ambang keadaan yang akan ditempatinya, seperti halnya Yesus Kristus, 40 hari lamanya didunia mendampingi murid-muridnya setelah peristiwa penebusan, hingga roh kudus mendewasakan murid-muridnya, turunnya roh kudus tersebut diperingati sebagai Pentakosta.  Setelah itu Yesus Tuhan naik ke surga dalam kemuliannya, untuk mempersiapkan tempat bagi kita. Dan apabila masa tersebut selesai maka ambang keadaan segera ditempati roh seorang manusia  sesuai dengan bobot dan kualitas selama seorang manusia menjalani hidup didunia ini.

Didalam aliran kristiani katolik, menyebutkan 3 ambang keadaan yaitu, Neraka, Api pencucian, dan Surga. Sedangkan untuk aliran Pantekosta, Protestan atau aliran-aliran lain, mereka menyebutkan  Surga dan Neraka. Semuanya adalah kebenaran menurut kepercayaan mereka masing-masing. Tetapi yang paling penting mempercayai bahwa bobot roh seorang manusialah yang menentukan mereka diklasifikasi ke suasana yang harus didiami untuk waktu yang tak terbatas, Suasana Neraka atau Surga.

Pada waktu saya kecil hingga mendekati umur 40 th, saya mempercayai ada kehidupan setelah kematian, dari buku-buku dan keluarga yang mengenalkan, tetapi saya baru  mengenal dan menyadari bahwa surga atau neraka ataupun api pencucian adalah bukan tempat tetapi suasana yang bersifat kekal, yang dihuni oleh roh-roh yang juga bersifat kekal.

Hingga saat ini surga dapat digambarkan melalui alkitab adalah suatu suasana dimana tidak ada ratap tangis dan gertak gigi, suatu keadaan yang indah dan penuh dengan pujian kepada Allah. Suatu keadaan yang sejuk, penuh damai sejahtera sungguh suatu suasana yang sangat diidamkan oleh seorang manusia. Demikian juga Neraka adalah Susana yang digambarkan sangat menyeramkan, ada api yang tak kunjung padam, ada siksaan dan penderitaan tanpa batas, ada suatu suasana penyiksaan roh seorang manusia yang menyesakkan dada, dan bersifat abadi. Silahkan memilih, tempat mana yang dikehendaki?

Pernah saya mendengar dari seorang sahabat bahwa ada kisah nyata seorang biarawati kontenplatif (pendoa) yang hidupnya memang hanya untuk mendoakan orang lain, mendapat karunia untuk bisa berhubungan dengan dunia roh, suatu hari setelah sekian tahun menjalani kehidupannya, mendoakan roh-roh orang mati  seorang biarawati tersebut mendapatkan penampakan, roh seorang Romo (pemimpin Kristen katolik), didalam penampakannya roh tersebut mengucapkan terima kasih atas bantuan dan kiriman doanya kepada roh-roh hingga baru saja roh romo tersebut dapat naik ke surga. Didalam komunikasinya biarawati kontemplatif  tersebut menanyakan berapa lama saudara roh romo menempati ambang api pencucian tersebut, roh tersebut mengatakan lebih dari 300 th dunia.  Mendengar cerita tersebut saya jadi merinding takut, coba bayangkan seorang romo yang hidupnya bergelut dibidang kerohanian saja, masih harus menjalani 300 th penyucian apalagi saya !

Mempercayai keyakinan kita bahwa setelah melewati jembatan transisi yang disebut kematian, ada klasifikasi roh menempati ambang suasana kekal tersebut, maka selama kita masih hidup, perlu untuk berlomba membuat diri kita semakin ringan dari dosa dan kesesatan, dengan banyak berbuat baik, kepada keluarga kita, kepada orang tua, sesama dan menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan Allah kita.

Bagi Yang Berpunya

 

Manusia dengan otak, harta tanpa hati

Mengejar Daku cukup dengan kuasa ilmu

Bagai mengejar angin tanpa tahu,

Dalam nafasmu yang tersengak, itulah aku.

 

Engkau lelah berberlari dan berkeluh kesah

Dunia kau genggam, tetapi bukan milikmu

 

 

Tiba-tiba sang angin datang menuju

Membawa nyawamu, meski engkau tak setuju

 

Harta padamu engkau hamburkan

Seolah sang angin bisa kau tenangkan

Jangankan rendah malah hartapun musnah

Atau kehilangan arti bila kau mati !

 

Jika kau sadar kini, cepat kau perbaiki

Tak usah menunggu esok, siapa tau sore engkau mati

Sesuatu yang telah pasti harus kau hadapi seorang diri

Tiada kawan atau bahkan guru agama bisa menangisi

 

Melihat dirimu telanjang dan kaku

Hatimupun terkuak lebar, isinya berhamburan keluar

Pengakuat dibuat, perbaikan sudah terlambat

Penyesalan sekarang bukan obat

 

Untuk yang mencibir (karena memang punya bibir)

Pada kaum papa (karena memang tak punya apa-apa)

 

Pada yang berzikir (karena panjang pikir)

Inilah saatnya engkau meronta meregang nyawa

 

Dr. Hartono

 

This entry was posted in Kesadaran and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s